dunia buku (beta)

KEMBALINYA PENDEKAR KANURAGAN

Posted on: December 28, 2008

Dua bundel buku bersampul biru itu terus terbayang di benak Salman Faridi dalam perjalanannya menuju Bandung. CEO Penerbit Bentang ini ingat betul buku yang dibacanya semasa kecil itu masih terselip di koleksi buku tua ayahnya.

Setibanya di Bandung, Salman langsung membongkar tumpukan buku tua di rumah orangtuanya dan menemukan yang dicarinya: bundel buku cerita silat karya Saini K.M.. Buku ini dicari Salman lantaran ia membutuhkan naskah proyek penerbitan buku cerita silat.

Sebetulnya banyak penulis muda yang mulai menggarap genre ini namun hingga kini Salman melihat karya mereka kurang matang. Karya mereka utamanya lemah dalam riset sejarahnya sehingga penggambaran pernak-pernik seperti pakaian pun seringkali tak akurat. Maka Salman berpaling kepada pengarang cerita silat kawakan seperti Saini.

Karya Saini yang diincar Salman merupakan cerita tentang para puragabaya yakni para ksatria yang dilatih khusus menjadi pengawal pejabat di kerajaan Sunda – semacam pasukan pengaman presiden. Cerita silat ini pernah dimuat secara berseri di harian Pikiran Rakyat pada era 1970-an dan pernah dibukukan pada 1974.

“Cerita Saini ini penuh muatan pesan moral dan kritik yang disampaikan secara halus,” kata Salman. Ia melihat sosok Saini mengarahkan sosok puragabayanya hanya memfokuskan pada berlatih kanuragan dan tugasnya melindungi negeri dengan mengesampingkan urusan tata negara. Salman menjelaskan, lewat penggambaran itu Saini menyampaikan kritik terhadap dwi fungsi angkatan bersenjata di Indonesia.

Selain kritik sosial tersebut, cerita silat Saini juga penuh romansa. “Adanya unsur cinta-cintaan ini membuat cerita silat ini bisa dekat dengan anak muda,” ujar Salman.

Demi mendapatkan naskah ini, Salman sendiri yang mendatangi guru besar Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung tersebut. Namun saat itu Salman harus menelan kecewa karena Saini sudah terlanjur menawarkan serial puragabaya tersebut kepada sebuah penerbit di Jakarta.

Dua bulan berselang Salman kembali menyambangi Saini. Berbekal portofolio tetralogi Laskar Pelangi dan novel karya Umberto Eco yang digemari Saini, Salman berhasil meluluhkan hati Saini yang akhirnya melepas naskahnya ke Bentang.

Naskah tersebut terbilang panjang lantaran ada sembilan tokoh puragabaya yang ditulis Saini. Bentang sendiri memulai dari kisah Pangeran Anggadipati yang dalam format aslinya terdiri dari 12 jilid yang dikemas ulang menjadi novel trilogi. “Kalau dijadikan satu buku terlalu tebal dan harganya jualnya juga kelewat mahal,” kata Salman.

Penyuntingan Bentang pun hanya sebatas koreksi kesalahan pengetikan dan tanda baca sementara gaya bahasa Saini dipertahankan. “Kalau disunting jadi bahasa Indonesia modern, novel ini seperti kehilangan rohnya karena gaya tutur Saini hilang,” kata Salman. Meski ini hanya novel daur ulang, Salman optimistis cerita silat ini akan diminati pembaca. Ia melihat ada tren penerbitan cerita dengan tema sejarah yang ternyata disambut baik oleh pembaca.

Ia mencontohkan kesuksesan penjualan novel tentang patih kerajaan Majapahit, Gajah Mada. Cerita silat legendaris Api Di Bukit Menoreh karya S.H. Mintardja pun kembali diterbitkan secara serial di sebuah surat kabar di Jawa Tengah.

Bentang mencatat penjualan novel trilogi Saini lumayan tak terlalu jelek yakni setiap judulnya rata-rata terjual 400 eksemplar dalam waktu tiga bulan. Diakui Salman angka tersebut jauh dibawah standar best seller Bentang sebanyak 1.000 eksemplar per bulan namun untuk ukuran novel debut dan daur ulang jumlah itu terbilang baik.

Kini penerbit yang berbasis di Yogyakarta ini tengah menyiapkan sekuel yang menceritakan sepak terjang Rakean yang tak lain anak dari Pangeran Anggarwati. Kisah tokoh yang satu ini akan dipecah menjadi dua buku.

Selain karya Saini, novel cerita silat yang juga tengah beredar di toko buku adalah Pelangi di Atas Gelagahwangi yang dibuat penulis skenario drama radio legendaris, S. Tidjab. Cerita ini sendiri awalnya sebuah sandiwara radio yang disiarkan ke seluruh penjuru tanah air lewat sekitar 100 stasiun radio dalam jaringan radio 68H Utan Kayu.

Saat terjebak kemacetan di ibukota Jakarta, Vice President Operation Mizan Publika, Putut Widjanarko, secara tak sengaja mendengarkan sandiwara ini di radio mobilnya. Berkaca pada kesuksesan buku bergenre kisah sejarah, Putut mengusulkan drama radio tersebut digarap menjadi novel.

Pelangi di Atas Gelagahwangi tersebut mengambil seting peralihan masa kejayaan Majapahit yang Hindu ke kerajaan Demak yang Islam. Pada masa itu konflik yang ada di masyarakat sudah cukup kental dan Tidjab menambahinya dengan dilema perbedaan agama di dalam keluarga tokoh utamanya. “Kisah ini menampilkan hubungan harmonis antara kedua agama itu dan wajah Islam yang simpatik,” kata Community Relations penerbit Mizan, Pangestuningsih.

Itulah yang menjadi alasan utama penerbit Mizan tertarik mengadaptasi novel tersebut. Lagipula saat itu cerita bernuansa Islam punya potensi jual yang besar karena pasar masih demam fiksi Islami akibat novel dan film Ayat-ayat Cinta.

Kepiawaian Tidjab membuat cerita dengan latar belakang sejarah kerajaan di Indonesia tak diragukan lagi. Tutuk melihat Tidjab sangat disiplin dalam riset kepustakaan terutama dari naskah-naskah kuno seperti Babad Tanah Jawi.

Seperti dalam karya legendarisnya yang pernah popular di akhir era 1980-an, Tutur Tinular, Tidjab juga menyisipkan unsure romansa dalam Pelangi di Atas Gelagahwangi. “Ketiga tokoh utamanya yang perempuan membuat cerita ini eksotis,” ujar Pangestuningsih.

Perempuan yang biasa disapa Tutuk ini ditugasi memburu Tidjab ke radio 68H dan diarahkan ke rumah produksi Cut2Cut Production yang menggarap sandiwara tersebut. Dengan bantuan rumah produksi inilah Tutuk akhirnya bisa bertemu dengan Tidjab

Penulis kisah Mahkota Mayangkara yang sempat dijadikan serial televisi ini langsung menyetujui tawaran adaptasi karyanya menjadi novel. “Saya pikir tidak ada salahnya toh dulu juga banyak yang menanyakan apakah serial radio saya ada bukunya,” kata Tidjab kepada duniabuku yang menemuinya di Toko Buku MP Book Point Jakarta, Rabu lalu.

Tidjab sudah sering mengadaptasi novel menjadi naskah drama, sementara untuk mengubah sandiwara mejadi novel baru kali ini ia lakoni. “Ini lebih sulit dari biasanya,” ujar Tidjab.

Ia memang harus kerja ekstra menambahkan deksripsi di sana sini karena musik dan efek suara jelas tak bisa dipakai lagi. Namun dialog-dilaog dalam sandiwara tetap ia pertahankan yang membuat bukunya penuh dengan percakapan dalam bentuk kutipan-kutiupan langsung.

Pria yang kini berusia 62 tahun ini pun berusaha menjaga agar alur ceritanya sederhana seperti sandiwara radionya. Agar yakin akan kesederhanaan itu, ia meminta pembantu dan orang-orang di sekitar rumahnya membaca draf novel dan melihat ternyata mereka bisa tak kesulitan memahami cerita. Seluruh proses ini memakan waktu tiga bulan.

Mizan lalu mencetak edisi pertama novel ini sebanyak 5.000 eksemplar dan meluncurkannya lewat lini penerbitan Qanita. “Sekarang novel ini termasuk yang penjualannya fast moving baik di Jakarta maupun di luar Jakarta,” kata Tutuk.

Saat ini Tidjab tengah menyiapkan sekuel novel tersebut. Rencananya novel akan diberi judul Fajar Islam Demak Bintoro.

About these ads

2 Responses to "KEMBALINYA PENDEKAR KANURAGAN"

Novel silat Puragabaya emang bagus… skrg jd 3 buku : Pangeran Anggadipati, Raden Banyak Sumba, Pertarungan Terakhir. Kebetulan saya punya ketiga novel tsb.

Novel Pelangi di Atas Gelagahwangi jg bagus… persis spt versi sandiwara radionya.

skrg pun bnyk beredar novel2 silat spt Jaka Tingkir, Sanggrama Wijaya, dll karya Gamal Komandoko, tp saya blom pernah baca 1pun dari karya Beliau.

kisah tutur tinular sunggh bikin htQ BErdebar. sayang bukuny gk prnh muncul di kendal. bg yg pny add Q.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: