dunia buku (beta)

BELANJA BUKU MURAH TANPA GERAH

Posted on: January 14, 2009

Pusat penjualan buku murah mulai bertebaran namun masih terkendala kurangnya promosi.

Kios-kios penjual buku berjajar di lorong-lorong selebar satu setengah meter. Ada buku yang dipajang dalam rak di dalam toko seluas empat meter persegi dan ada pula yang digelar di lapak-lapak yang dijual dengan harga miring dan masih bisa ditawar.

Tapi jangan menduga para pembeli di salah satu pusat penjualan buku murah di Jakarta ini harus berpeluh dan berdesakan sembari mencari buku di kaki lima apalagi pusing mencari parkir kendaraan. Bursa buku murah yang satu ini berada di mal yang berpendingin udara dan pembeli bisa memakai eskalator ataupun elevator untuk mencapai tempat yang berada di lantai 3A pusat belanja Jakarta City Center ini.

Bursa Buku ex-Kwitang, begitu nama tempat kios-kios tersebut. Pedagang buku di tempat ini memang berasal dari pasar buku murah kawasan Kwitang yang telah melegenda jauh sebelum masa Indonesia merdeka. Belakangan kawasan itu digusur karena lahannya akan dijadikan ruang terbuka hijau dan beberapa pedagang hijrah ke Jakarta City Center di Tanah Abang sejak September 2008.

Bursa buku yang diresmikan Walikota Jakarta Pusat, Silviana Murni, akhir Desember tahun lalu ini merupakan bagian dari tren pusat belanja di seputaran Jakarta yang menyediakan sentra penjualan buku murah. Sebelumnya di Kelapa Gading Trade Center juga dibuka Pusat Buku Indonesia dan saat ini sebuah pusat belanja di Depok juga tengah menjajaki pembukaan tempat serupa.

Dalam urusan pasar buku murah, Jakarta memang terbilang ketinggalan ketimbang kota-kota lain di Jawa. Bandung, misalnya, memiliki pasar buku Palasari. Yogyakarta juga meremajakan Shopping Center dimana lapak dan kios buku ditempatkan di dalam bangunan dan menjadi tempat masyarakat Kota Gudeg mencari buku murah.

Namun berbeda dengan di kota lain, konsep sentra penjualan buku murah di Jakarta justru menyatu dengan mal dimana kios penjualan dikumpulkan di satu blok. Pengelola Jakarta City Center, misalnya, menyediakan sekitar 200 kios buku bagi bekas pedagang buku Kwitang di blok G dan H.

Dari jumlah itu kini sudah 150 kios yang terisi dan berjualan mulai pukul sembilan pagi hingga pukul enam sore. Buku-buku yang dijual antara lain buku teks kuliah, buku pengetahuan umum, buku impor, novel, komik, dan majalah. Beberapa kios bahkan berspesialisasi menjual buku kedokteran, buku dan ada juga yang khusus menjajakan literatur seni lukis.

Pembeli utamanya datang pada akhir pekan. Edi, pemilik toko buku Rindy, menceritakan mayoritas pembelinya adalah mahasiswa. Pria asal Bukittingi ini memang mengkhususkan diri menjual buku teks kuliah meski masih diselipi beberapa buku fiksi.

Rata-rata pedagang sepeti Edi memberikan potongan harga yang cukup besar. Kamus bahasa Inggris-Indonesia yang di toko buku dijual seharga Rp 125 ribu bisa didapatkan di tempat ini seharga Rp 30 ribu.

“Pokoknya di sini harganya murah dan bisa ditawar,” kata Edi. Menurutnya, harga jual bisa murah karena mereka mendapatkan barang langsung dari penerbit.

Memang pembeli harus jeli melihat barang dan tidak cepat tergiur harga murah pasalnya dari buku yang dijual terselip juga barang bajakan. Salah satunya novel Habiburrahman El Shirazy dengan sampul buku yang cetakannya pudar seperti judul novelnya, Pudarnya Pesona Cleopatra. Buku ini ditawarkan seharga Rp 10 ribu.

Namun ini bukan berarti isinya melulu buku bajakan karena menurut Ketua Koperasi Bursa Buku Ex-Kwitang, Joni Rais, yang mereka jual utamanya buku retur dan buku bekas. Menurut Joni, buku retur atau buku yang dikembalikan ke penerbit akibat tak laku dijual di toko mereka tampung.

Karena terhitung barang yang sudah lewat masa edar maka dengan sendirinya anggota koperasi bisa menjual dengan harga murah. Berjualan buku retur dianggap Joni dan rekan-rekannya menjadi kelebihan tersendiri karena di bursa buku inilah pembeli bisa mencari buku yang sudah tak bisa dijumpai lagi di toko buku besar.

Menurut Joni, rata-rata pedagang di bursa ex-Kwitang ini memberikan potongan harga hingga 35 persen. “Bahkan kami sekarang menjual lebih murah ketimbang harga saat kami berjualan di Kwitang,” ujarnya.

Harga yang murah ini menjadi strategi menarik pembeli yang diakui Joni masih kurang ramai. Meski terbilang lengang dan pelayan kios terlihat bisa berleha-leha, setiap bulannya mereka bisa mendapatkan omset penjualan paling kecil Rp 1 juta rupiah.

Selain mengandalkan harga yang miring, koperasi juga menggelar berbagai lomba dan diskusi buku. Bulan lalu mereka menggelar bedah buku Hamka dan pembagian buku gratis dan kini mereka mengadakan obral buku seharga Rp 3.000 hingga Rp 10.000. Joni juga tengah menggarap persiapan menjual buku pelajaran yang biasa mereka adakan menjelang tahun ajaran baru.

“Pokoknya semua sama seperti di Kwitang tapi bedanya lebih adem dan nyaman,” ujar Joni. “Kami bercita-cita nantinya ini menjadi bursa buku murahnya kota Jakarta seperti yang ada di kota lain.”

Jika para pedagang ex-Kwitang mengandalkan koneksi dengan penerbit maka di Pusat Buku Indonesia (PBI) yang berada di lantai 3 Kelapa Gading Trade Center, setiap toko justru dikelola langsung oleh penerbit. “Kami menyatukan penerbit dalam satu gedung sehingga masyarakat lebih mudah mencari buku,” kata Sekretaris PBI, Upi Tuti Sundari.

Balai Pustaka menjadi salah satu penerbit yang membuka tokonya di tempat ini. Berbagai karya roman dan sastra klasik yang sudah tak dijumpai lagi di toko buku besar bisa ditemui di sana.

Penerbit dari luar kota seperti CV Duta Nusindo yang berkantor pusat di Semarang juga berjualan di PBI. Penerbit ini mengkhususkan diri memproduksi buku peraturan dan undang-undang serta buku pemerintahan seperti panduan tata naskah dinas di tingkat pemerintah daerah.

Sejak Wakil Presiden Jusuf Kalla meresmikan PBI pada Mei tahun lalu, Duta Nusindo telah menjajakan bukunya dengan rabat hingga 40 persen. “Karena yang berjualan langsung penerbitnya jadi bisa kasih diskon lebih besar,” kata pelayan toko, Ahmad Nurul Fatah.

Menurutnya, PBI pembeli banyak yang datang ke PBI di akhir pekan. Meski sepi pada hari kerja, dalam sebulan tokonya bisa meraup omset paling kecil sekitar Rp 1 juta.

Ahmad menjelaskan, tokonya juga berfungsi menjadi semacam kantor perwakilan penerbit sehingga konsumen yang ingin memesan dalam jumlah besar cukup mendatangi toko ini. Ahmad menceritakan jika ada pemesanan skala besar maka omset penjualan toko di PBI ini bisa melonjak hingga Rp 5 juta dalam satu bulan.

Konsep toko sekaligus kantor penerbit ini memang ide awal PBI. Pengelolanya berharap dengan konsep tersebut selain penjualan buku, masyarakat juga bisa mengontak langsung penerbit bahkan menawarkan naskah buku mereka.

Selain toko yang menjual buku lokal, ada juga toko yang menjual buku impor dengan harga miring yakni toko BOOKS. Misalnya novel karya penulis Italia, Umberto Eco, hanya dihargai Rp 50 ribu padahal di toko buku impor rata-rata buku Eco dijual Rp 200 ribu.

Sayangnya meski sudah tujuh bulan beroperasi, PBI tak terlalu bergairah. Dari 300 kios yang disediakan pengelola mal, yang terisi baru sekitar 80 kios.

Menurut Upi Kelapa Gading memang cukup jauh untuk dicapai bagi pembeli dari wilayah lain di Jakarta apalagi bagi mereka yang berasal dari luar Jakarta. Posisi mal di yang kurang strategis juga dinilai Upi menjadi kendala utama.

“Posisi kami tidak di pinggir jalan raya sehingga publik tidak terlalu kenal,” ujarnya. “Tapi hanya di tempat ini yang memberikan gratis sewa selama satu tahun.”

Lesunya bisnis ini membuat beberapa penerbit menutup kembali kiosnya misalnya saja Mizan dan Erlangga. Tak juga terlihat tanda-tanda toko buku Gramedia yang disebut-sebut akan membuka cabang di tempat ini.

Kondisi ini memang menyulitkan pengelola PBI. “Penerbit buka tapi tak ada pembeli dan pas pembeli datang penerbitnya malah tutup,” keluh Upi.

Toh pengelola PBI tak menyerah. Menjelang akhir tahun lalu mereka menggandeng penerbit Mizan menggelar obral buku terbitannya dan berlanjut dengan menjual buku pelajaran murah atau Buku Sekolah Elektronik hasil kerja bersama Departemen Pendidikan Nasional.

PBI juga menjadikan Desember lalu menjadi Bulan Buku Murah dimana mereka menggelar bazaar buku impor dengan harga murah. Upi mengklaim program ini mampu menyedot konsumen datang bahkan dalam catatannya dalam sebulan sekitar 1.800 buku impor ludes terjual. Karena dinilai sukses, bazaar tersebut diperpanjang hingga akhir Januari.

Upi memaparkan rencana menjadikan PBI menjadi Education Department Store yang diharapkan bisa terwujud pada Mei mendatang. Dalam konsep ini nantinya selain buku akan ditawarkan juga berbagai keperluan dunia pendidikan seperti alat peraga hingga piranti lunak pendidikan.

Sembari membenahi PBI di ibukota, Upi mengatakan PBI juga sudah dibuka di Jalan Jenderal Sudirman, Padang, Sumatera Barat. Menyusul pada April mendatang, PBI Makassar akan dibuka di Jalan Perintis Kemerdekaan. “Tahun ini kami bertekad memperbaiki pusat buku supaya lebih maju lagi di tahun ini,” kata dia.

3 Responses to "BELANJA BUKU MURAH TANPA GERAH"

kwitang digusur ….. hiks … hiks … tinggal sisa2nya aja … tp syukur masih ada sedikit … soalnya gw suka beli buku …. kmn lg klo ga ke kwitang ???

Toko buku yang menarik, karena harganya relatif murah.

Wuih, kyaknya mantap juga nih. Sip, thx alot. Siap-siap menuju tkp.. :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: