dunia buku (beta)

SATU LAGI DARI DUNIA SIHIR POTTER

Posted on: February 4, 2009

cover dari situs snitchseeker.com

Sulit memastikan kapan J.K. Rowling akan benar-benar menyelesaikan cerita Harry Potter. Dunia Potter tampaknya diciptakan Rowling kelewat dalam dan rumit sehingga ia merasa sembilan buku belum cukup untuk mengupasnya.

Setelah buku ketujuh kisah Potter sekaligus penutup serial novel ini diterbitkan pada Desember lalu, Rowling kembali meluncurkan buku The Tales of Beedle the Bard, yang masih punya benang merah dengan cerita Potter. Buku terbaru ini menjadi buku pendamping novel Harry Potter yang ketiga setelah Fantastic Beasts and Where to Find Them (Hewan-hewan Fantastis dan di Mana Mereka Bisa Ditemukan) dan Quidditch Through the Ages (Quidditch dari Masa ke Masa).

Karya terbaru novelis Inggris ini adalah antologi cerita pendek yang, salah satu kisahnya adalah The Tale of the Three Brothers, menjadi petunjuk yang ditinggalkan kepala sekolah Hogwarts, Albus Dumbledore, kepada murid-muridnya. Itu menjadi petunjuk untuk mengalahkan Lord Voldemort dalam Harry Potter and the Deathly Hallows (Harry Potter dan Relikui Kematian).

Dongeng The Tale of the Three Brothers hanya salah satu dari lima dongeng pengantar tidur anak-anak soal penyihir. Namun, di tangan Rowling, dongeng itu dikesankan ditulis seorang penyair bernama Beedle, yang dikumpulkan oleh Dumbledore.

Pada akhir cerita, Rowling memasukkan catatan dan analisis Dumbledore terhadap dongeng itu. Catatan tersebut berisi hal-hal yang terjadi jauh sebelum era Harry Potter sehingga menjadi semacam prekuelnya. Dumbledore menguak berbagai problema yang menjadi titik masalah kisah Harry Potter, seperti pertentangan pecinta dan pembenci manusia yang tak menguasai sihir atau dalam istilah dunia khayal Potter disebut Muggle.

Catatan-catatan Dumbledore itulah yang membuat buku ini bukan sekadar kumpulan cerita anak pada umumnya. Rowling mendobrak pakem penulisan dongeng dengan menjelaskan sendiri pesan-pesan moral dalam dongeng kepada pembaca bukunya.

Sebenarnya, alur dan gaya bercerita dongeng yang disajikan Rowling sama dengan kumpulan dongeng Jerman yang disusun Jacob Ludwig Grimm dan Wilhelm Carl Grimm atau lebih dikenal dengan Brothers Grimm, seperti Rapunzel, Putih Salju, serta Hanzel dan Gretel. Cerita yang memuat interaksi antara manusia yang menguasai ilmu sihir dan yang tidak.

Satu perbedaan mendasar antara dongeng Rowling dan Grimm bersaudara terletak pada penokohan penyihir. Dalam dongeng Grimm, penyihir muncul menjadi tokoh antagonis yang pendendam, licik, manipulatif, dan memakai ilmu sihirnya demi pemenuhan nafsu pribadi. Dalam kisah Hanzel dan Gretel, misalnya, seorang penyihir yang tinggal di tengah hutan sengaja menciptakan rumah kue dan gula-gula demi menarik perhatian anak-anak yang akan dijadikan santapannya.

Sosok penyihir yang gelap dan jahat itu tersebar dalam cerita rakyat dataran Eropa seperti ditemukan Ruth Manning-Sanders saat mengumpulkan selusin dongeng sihir pada antologi dongeng A Book of Witches (1966). Dari 12 yang ada, hanya cerita Tatterhood dari Norwegia yang tokoh penyihirnya terbilang baik hati dan akhirnya menikahi sang pangeran tampan.

Dongeng Rowling adalah antitesis dari semua karya sastra tersebut. Di sini penyihir menjadi tokoh protagonis yang dengan ilmu sihirnya hidup berdampingan bahkan membantu manusia biasa. Seolah hendak menjawab kritik terhadap serial Harry Potter yang dianggap mengajarkan dunia sihir yang hitam, Rowling meminjam mulut Dumbledore untuk menyampaikan bahwa penyihir hanya jahat karena dikarakterkan demikian secara budaya.

Cerita penyihir muda yang berkeliling membantu penduduk desa dalam Wizard and the Hopping Pot yang membuka buku ini sejalan dengan kisah-kisah di Inggris Utara. Ceritanya tentang orang-orang yang berkeliling menawarkan jasa menyembuhkan penyakit dan masalah yang dibawa roh-roh jahat.

Beedle, penyair yang menyusun dongeng tersebut, diceritakan Rowling hidup pada abad ke-15, sebuah masa penuh perburuan terhadap mereka yang dianggap mempraktekkan ilmu sihir. Penggalan sejarah Eropa itu ditarik oleh Rowling ke dunia fiksi Potter. Perburuan penyihir dijadikan akar kebencian kelompok penyihir yang membenci kaum Muggle dan Mudblood (anak hasil perkawinan kaum penyihir dan Muggle). Dalam catatannya, Dumbledore mengungkap upaya sistematis dan kontinu kelompok ini mengubah isi dongeng agar lebih sejalan dengan pandangan mereka.

Pada salah satu catatan Dumbledore, Rowling juga menyisipkan kritiknya terhadap pandangan bahwa cerita anak tak boleh berisi hal mengerikan, seperti penyakit, pertumpahan darah, dan kematian. Penyensoran itu, seperti juga yang diniatkan orang terhadap serial Harry Potter, baginya justru membuat dongeng anak menjadi datar dan akan membuat anak-anak muak sehingga tak tertarik membacanya.

Senada dengan kritik itu pula, dalam menyusun dongeng di buku ini, Rowling sama sekali tak menahan diri menampilkan cerita yang berakhir rada mengerikan: The Warlock Hairy Heart (Hati Berbulu Sang Warlock). Ia pun tanpa ragu membahas soal kematian yang biasa dihindari para penulis anak.

Diam-diam, beberapa analisis terhadap dongeng Beedle the Bard ini membawa pembacanya kepada level baru dalam menikmati karya sastra. Pembaca Harry Potter, yang rata-rata pembaca pemula, dibawa dari sekadar khalayak pasif menjadi pembaca yang aktif dan kritis.
Mereka diajak memahami bahwa sebuah dongeng, betapapun sederhananya, selalu memiliki cerita di baliknya. Isi, alur, dan penokohan cerita akan terpengaruh oleh konteks waktu dan budaya saat kisah itu ditulis, yang nantinya masih bisa berubah-ubah seiring dengan tekanan dan pengaruh dari berbagai kelompok yang punya kepentingan terhadapnya.

Pencampuran sastra dan kritik sastra inilah yang menjadi daya tarik utama buku ini sekaligus menjadikannya tak membosankan, bahkan bagi mereka yang tak mengikuti cerita Harry Potter sekalipun. Dongeng-dongeng yang ditulis Rowling pun cukup menghibur meski, sayangnya, kelewat pendek dan kelewat sedikit sehingga dalam waktu singkat sudah habis dilahap sebelum rasa lapar dari membaca dongeng-dongeng orisinal ini terkenyangkan.

Membaca karya terbarunya ini, Rowling sebenarnya bisa menulis sebuah cerita yang ujung-ujungnya tak kembali ke kisah Potter. Tapi mengharapkan Rowling menerbitkan karya yang benar-benar baru pun tampaknya masih harus menunggu. Ia masih menyimpan satu buku pendamping lagi yang rencananya berisi ensiklopedi karakter-karakter dalam novel Potter, termasuk rentetan peristiwa yang terjadi dalam dunia sihir setelah buku ketujuh.

Judul: The Tales of Beedle the Bard
Pengarang: J.K. Rowling
Penerbit: Bloomsbury, 2008
Tebal: xi + 109 halaman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: