dunia buku (beta)

PELUANG BISNIS BUKU KRISIS

Posted on: April 23, 2009

Mangkuk berisi buah-buahan segar yang tertutup saus salad menemani Hans-Michael Fenderl sarapan di Hotel Borobudur, Jakarta. Pagi itu Account Manager Frankfurt Book Fair ini menceritakan yang dilihatnya di ajang pameran buku tersebut Oktober tahun lalu.

Wajahnya agak merengut resah saat mulai bercerita soal krisis global. Rupanya tanda-tanda industri buku terjangkit dampak resesi ekonomi sudah mulai terlihat dari beberapa penerbit yang membatalkan kunjungannya dan peserta yang jadi langganan pun memesan ruang stand yang lebih kecil dari biasanya.

Meski begitu Fenderl tetap optimistis karena ia melihat adanya peluang tersendiri bagi penerbit buku di tengah krisis ini. Saat pameran Fenderl melihat banyak buku-buku yang membahas soal resesi global dan nampaknya banyak diminati oleh agen literasi dan penerbit yang ingin membeli hak cipta dan memboyongkan di negara mereka masing-masing.

“Krisis ini telah membuat orang kembali membaca buku karena ingin memahami apa yang sebenarnya tengah terjadi di dunia,” kata Fenderl. “Ini peluang yang harus dimanfaatkan para penerbit.”

Meski tak banyak jumlahnya, buku tentang krisis ekonomi mulai bermunculan semenjak pertengahan 2008. Pada Agustus tahun lalu wartawan finansial Alex Brummer menarasikan persoalan kredit perumahan di Amerika Serikat yang menjadi titik pangkal resesi dalam bukunya The Crunch. Dengan gayanya sindirannya yang khas, Brummer menuliskan hasil wawancaranya dengan para pemain besar yang ulahnya membuat masalah ekonomi merebak.

Ada juga buku yang melihat krisis saat ini dengan berkaca pada sejarah saat peristiwa yang sama terjadi pada 1929. Liaquat Ahamed baru saja menerbitkan bukunya, Lords of Finance, yang mengupas krisis ekonomi saat itu dan pihak-pihak yang menyebabkan petaka itu terjadi.

Novelis pemenang penghargaan Nobel, Margaret Atwood, juga menulis essai berjudul Payback: Debt and the Shadow Side of Wealth. Ia menuturkan perihal pinjaman dan utang sepanjang sejarah manusia yang menurutnya selalu mendatangkan masalah dalam kehidupan manusia termasuk resesi yang sekarang terjadi.

Masih banyak lagi buku yang membahas soal perbankan, masalah dalam kinerja perusahaan besar, serta ramalan-ramalan soal krisis. Penulisnya pun beragam mulai dari mantan bankir, wartawan, analis ekonomi, dan politisi.

Sementara itu di Indonesia sendiri buku tentang krisis ekonomi belum banyak digarap. Penerbit Gramedia Pustaka Utama pun baru mulai menerbitkan buku tentang krisis yang diawali dengan Marketing in Crisis yang ditulis Rhenald Kasali.

Buku yang mengulas langkah-langkah memantapkan jurus pemasaran di saat krisis ekonomi ini dicetak Gramedia sebanyak 10 ribu eksemplar. Editorial dan Product Manager Non-Fiksi penerbit Gramedia Pustaka Utama, Siti Gretiana mengatakan, buku tersebut kini sedang dicetak ulang.

Greti, begitu ia biasa disapa, tak berani memastikan larisnya buku tersebut lebih kepada faktor penulisnya yang dikenal sebagai pakar bisnis atau karena tema yang terkait dengan krisis yang sedang melanda perekonomian dunia. Namun diakuinya, buku yang isinya menyerempet isu-isu krisis global memang dicari pembeli.

Misalnya saja buku The Black Swan yang salah satu bagiannya meramalkan kejatuhan bursa saham. Buku yang ditulis Nassim Nicholas Taleb ini diedarkan sebanyak 15 ribu eksemplar di pasar dan sejauh ini sudah laku sebanyak 10 ribu kopi.

Bagi Greti angka tersebut lumayan tinggi di tengah kelesuan penjualan di toko buku. Dalam catatan Greti selama dua bulan terakhir penjualan buku-bukunya menurun.

Melihat minat yang cukup lumayan terhadap buku soal krisis ekonomi tersebut, Gramedia berencana menerbitkan beberapa judul buku bertema serupa. “Kira-kira akan kami keluarkan di pertengahan tahun ini,” kata Greti.

Direktur Gradien Meditama, Ang Tek Khun, melihat krisis ekonomi kali ini akan membawa tren buku yang berbeda. “Kalau krisis 1998 orang shock dan mencari jalan keluar dengan menjadi lebih religius,” ujarnya.

Karena itu Khun melihat saat itu buku-buku spiritual baik yang religius atau motivasional lumayan diminati. Tema lainnya yang banyak dicari adalah buku tentang wiraswasta sebagai akibat dari gencarnya pemberitaan tentang korban pemutusan hubungan kerja juga selebritas yang membuka usaha berskala kecil dan menangah seperti kafe tenda.

Khun berpendapat saat ini masyarakat tak sekaget seperti sepuluh tahun lalu sehingga tak lagi mencari literatur yang bersifat motivasional dan self-help. Yang justru sekarang ini menggejala, kata Khun, malah buku mencari tambahan penghasilan dengan instan. “Kelihatannya orang mencari buku yang bisa membantu mereka mendapat uang tanpa perlu banyak berkeringat,” ujarnya.

Buku tentang bisnis seperti ini memang akan mendapat tempatnya di tengah krisis, namun Khun percaya faktor yang paling menentukan tetaplah harga. Karena itu ketimbang fokus pada genre, Khun lebih berkonsentrasi pada menekan biaya produksi dan harga jual.

About these ads

2 Responses to "PELUANG BISNIS BUKU KRISIS"

Assalamu ‘alaikum wr.wb.
Sahabat, salam kenal…

Saya ingin sangat tertarik membuka sebuah toko buku, bagaimana saya harus memulainya dan kira-kira hal-hal apa saja yang harus diperhatikan agar dapat sukses dalam bisnis ini.
Terimakasih banyak…

Waduh Akhi, saya sangat ingin membantu Anda, namun saya tak bisa memberikan masukan karena tak terlalu menguasai seluk-beluk bisnis itu. Mesti berani tanya sama yang sudah mulai.

Yang terpenting barangkali mencari tempat dulu dengan pasar yang potensial dan jangan terlalu dekat toko buku raksasa macam Gramedia ato Gunung Agung.

Setelah itu mulailah kontak penerbit, Anda jelas mendapat diskon meski tak besar karena baru mulai bisnis, tapi setahu saya dengan penerbit seperti Gramedia pun paling tidak ada rekan-rekan saya yang bisa berjualan diskon 10 persen. Di dekat kampus UI Depok misalnya ada kios-kios kecil yang menjual komik dengan iming2 diskon 10 persen dan itu lumayan laku.

Saya tak tahu modalnya perlu berapa tapi silahkan saja mencoba tapi dihitung2 dulu ya, bisnisnya akan untung atau tidak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: