dunia buku (beta)

CLARA NG: KEGELISAHAN BERBUAH PENGHARGAAN

Posted on: May 25, 2009

clara

oleh: Okta Wiguna

Tujuh tahun sudah Clara Regina Juana menggeluti profesi penulis kisah-kisah fiksi. Masyarakat pencinta fiksi lebih mengenal perempuan kelahiran Jakarta, 35 tahun lalu, ini dengan nama penanya: Clara Ng. Nama belakangnya itu diambil dari nama sang suami: Nicholas Ng Hock Hooi.

Putri pasangan Willy Atmadjuana dan Sri Angela ini sudah menulis 10 novel. Itu belum termasuk kumpulan cerpen dan cerita lepasnya, yang dimuat di pelbagai media massa.

Sejak tiga tahun lalu, Clara merambah dunia buku anak, yang boleh dibilang tak banyak dijamah para penulis. Dan sejak itu pula dia menjadi langganan peraih penghargaan kategori cerita dalam buku anak pada Adikarya Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi), yang digelar setahun sekali.
Jumat lalu, saya mengikuti keseharian pengarang yang pembawaannya ceria tapi mendadak bisa bicara serius dan tegas ini.

09.30
Rumah Clara Ng
Tanjung Duren, Jakarta Barat

Clara menyambut Tempo dari balik pagar hijau rumahnya, yang membatasi taman berumput dihiasi jalan semen bertabur batu-batu kecil dan patung-patung hewan berwarna-warni. Ia langsung mengajak Tempo masuk dan mengobrol di ruang kerjanya, yang dipenuhi buku.
Deretan buku tertata rapi di rak dan bertumpuk di atas meja kerjanya. “Saya lagi baca The Pillars, yang ditulis Ken Follet,” katanya sembari menarik satu buku dari rak.

Sejak kecil Clara suka membaca. Kegemarannya itu berkat kebiasaan ibunya yang membacakan cerita, terutama menjelang tidur. Clara tak membatasi bacaannya. Tak mengherankan jika roman seperti Gone with the Wind bersanding dengan Bram Stoker’s Dracula dan Godfather karya Mario Puzo. Ada pula novel-novel Pramoedya Ananta Toer dan ensiklopedia masjid dunia.

Tapi, dari sekian banyak buku itu, hanya kamus dan Tesaurus Bahasa Indonesia yang wajib berada di meja kerjanya setiap saat. Plus sebuah komputer jinjing yang terhubung dengan Internet.

Clara menuturkan, dia tak pernah membayangkan menjadi penulis meski sejak SMA suka merangkai cerita-cerita fiksi. Pada 1992, selepas SMA Bunda Hati Kudus, Jakarta Barat, ia berniat melanjutkan kuliah jurnalistik.

Awalnya ia memilih Australia. Tapi batal karena sistem pendidikan di Negeri Kanguru itu mengharuskan Clara mengulang tahun terakhirnya di SMA sebelum kuliah. “Aduh, males banget,” ujar Clara, yang kemudian memilih kuliah jurnalistik di Ohio State University, Amerika Serikat.
Tapi, di Ohio, Clara juga menemui sedikit masalah. Kurikulum di jurusan yang dimasukinya tengah dibenahi. Atas anjuran penasihat akademiknya, Clara akhirnya mengambil jurusan interpersonal communication.

Lulus kuliah, Clara sempat dua tahun bekerja sebagai staf sumber daya manusia di sebuah perusahaan di Negeri Abang Sam. Bidang kerja itu dilanjutkannya di sebuah perusahaan shipping multinasional saat dia kembali ke Tanah Air.

Tak lama berselang, Clara bertemu dengan Nicholas. Meski tak sekantor, Nicholas rajin bertandang ke tempat kerja Clara. Lewat pertemuan-pertemuan rutin itulah terjalin percintaan hingga akhirnya mereka menikah pada 2000.

Namun, sekitar setahun setelah menikah, Clara jatuh sakit. Karena harus menjalani pengobatan, ia kemudian mengundurkan diri dari pekerjaannya. Waktu yang sangat luang diisi Clara dengan menulis cerita. Hingga akhirnya dia menerbitkan novel perdananya, Setahun Tujuh Musim, secara swadaya.

Sejak itu langkah Clara tak terbendung. Lewat perkenalannya dengan seorang manajer penerbit Gramedia Pustaka Utama, novel-novel selanjutnya berturut-turut diterbitkan. Clara memang cukup produktif, hingga hampir tak ada jeda lama antarbukunya.

“Menulis itu bagi saya adalah panggilan,” katanya. “Berhenti atau tidak berhenti kerja pasti saya akan menulis, karena saya percaya orang yang punya bakat seni pasti akan terpanggil oleh bakatnya.”

Dan bagi Clara, menulis senantiasa mendatangkan pengalaman yang menyenangkan. Sebab, setiap proses penulisan sebuah novel pasti memberinya banyak pengetahuan baru yang acap tak terduga.

11.00
Gandhi Memorial International School
Kemayoran, Jakarta Pusat

Clara memacu Honda CRV perak melewati jalan tol menuju sekolah putri sulungnya, Elysa, di Gandhi Memorial International School, Kemayoran. Sebetulnya ada sopir yang bisa mengurus antar-jemput, tapi ibu dua anak ini memilih melakukannya sendiri. “Urusan sekolah ini waktunya singkat, sebentar lagi mereka sudah malu ditunggui sama emaknya di sekolah,” ujarnya seraya tertawa.

Pertimbangan memilih sekolah internasional itu karena sang suami dan kedua anaknya masih berkewarganegaraan Malaysia. Pemerintah negeri jiran itu tak mengizinkan dwikewarganegaraan. Dan Clara menjadi penjamin setiap kali mengurus izin tinggal bagi keluarganya.

Yang juga menjadi pertimbangan memilih sekolah itu, suami Clara menyukai sistem kurikulumnya. Sekolah itu tak hanya mempedulikan soal akademis, tapi juga menyalurkan bakat seni siswanya lewat pentas menyanyi, tarian, dan teater, yang digelar secara rutin. Clara tak mau buah hatinya tak bisa menyalurkan kesukaan menulis dan bermain teater seperti dia sekolah dulu.

Clara gelisah melihat tak cukup banyak perhatian yang diberikan buat anak. Dia mencontohkan, penyanyi dan pencipta lagu jumlahnya banyak, tapi sedikit yang mau menggubah lagu anak, sehingga anak-anak terpaksa ikut bernyanyi lagu dewasa, yang temanya jelas tak cocok.
Kegelisahan lain Clara adalah minimnya buku anak. Clara melihat para orang tua lebih suka memberikan buku mewarnai, yang membuat anaknya sibuk sendiri dan tak banyak merecoki mereka. “Sedangkan buku cerita justru mengharuskan orang tua menemani anak saat membacanya,” kata Clara, yang selalu mendorong orang tua membacakan cerita bagi anaknya.

Itulah yang memantapkan langkah Clara menulis buku anak. Tapi tak mudah meyakinkan penerbit, yang ragu karena tingginya biaya produksi buku anak yang penuh warna dengan kertas cukup luks.

Toh, Clara tak patah arang. Ia terus berusaha dan berhasil meyakinkan penerbit. Buku anak karyanya, Gaya Rambut Pascal, meraih juara kedua penghargaan Adikarya Ikapi 2006. Lantas setahun kemudian, Melukis Cinta dari seri Sejuta Warna Pelangi menjadi juara pertama penghargaan yang sama. Ini berlanjut pada 2008, Yayasan Adikarya Ikapi memilihnya menjadi pemenang ketiga kategori cerita dalam buku anak untuk Jangan Bilang Siapa-siapa.

Sukses Clara itu membuatnya sering diundang menjadi pembicara seminar sampai diminta membacakan buku anaknya kepada siswa sekolah dasar. Tahun ini Clara juga diundang menjadi pembicara dalam perhelatan dunia literatur internasional di Bali, Ubud Writers Festival, yang kerap mendatangkan penulis kondang dari pelbagai negara.

Kini, selain terus menulis serial cerita anak, Clara tengah menggarap antologi cerpen anak bersama beberapa penulis anak. Lalu ia juga sedang menyiapkan buku fiksi fantasi anak.

14.40
Restoran Pizza Hut
Mal Ciputra, Jakarta Barat

Setelah menjemput dan mengantar anaknya pulang sekolah, Clara mengajak makan siang di restoran Pizza Hut, Mal Ciputra. Clara memesan teh rasa stroberi dan pizza dengan topping daging sapi. Menurut dia, daging jenis ini hanya dia makan di luar rumah karena suami dan kedua anaknya tak makan daging sapi, yang menjadi tradisi keluarga besar Ng.

Clara mengaku lebih sering makan di luar dan di sela antar-jemput anaknya. Dan ia jarang makan dengan porsi besar. Meski demikian, jika disuguhi makanan favoritnya, yakni sushi, dia langsung ngiler.

Menurut Clara, biasanya jam makan siang dimanfaatkan sebagai waktu istirahat sejenak dari menulis. Terkadang ia juga bertemu dengan teman-teman. “Penulis memang mesti hidup dalam kesendiriannya karena saat menulis memang cuma sendirian,” katanya. “Tapi bukan berarti saya tidak bergaul.”

16.20
Rumah Clara

Saban hari Clara selalu bangun sekitar pukul lima pagi dan menyiapkan keperluan anak dan suaminya. Setelah itu, harinya diisi dengan bolak-balik ke sekolah anaknya. Dan setiap kali sampai di rumah, ruang kerja yang bersebelahan dengan ruang tamu menjadi tempat pertama yang dituju Clara. Dari ruangan itulah karya-karyanya mengalir.

Clara selalu menyempatkan diri menulis atau melakukan riset di ruang kerjanya itu, meski hanya satu atau dua jam. Kalaupun ia harus meninggalkan rumah, tulisannya itu dikirimkan ke e-mail-nya, lantas diteruskan lewat BlackBerry-nya. Setiap naskah bukunya rata-rata dirampungkan empat bulan.

Rutinitas menulis hanya berhenti pada Sabtu dan Minggu. Clara tak pernah mengambil masa rihat terlalu lama. “Kepala saya ini penuh dengan ide cerita dan tokoh yang berteriak-teriak minta ditulis,” ujar perempuan berkacamata yang tak harus menulis di tempat sepi atau pas larut malam ini.

Dan kalau penulis pingin sejahtera serta hidup dari karyanya, tutur Clara, kuncinya adalah konsistensi menulis. “Penulis bisa menikmati pendapatan setingkat manajer perusahaan besar asalkan terus berkarya.”

Selain konsisten, penulis harus punya idealisme yang bersanding dengan pertimbangan bisnis. Menurut dia, penulis mesti bisa juga menjadikan namanya semacam brand yang menjual.

Terakhir, yang cukup penting adalah aspek hiburan. Itu berarti sebuah buku mesti menyenangkan penulis dan pembacanya. Clara berusaha, saat orang membaca bukunya, mereka tak cuma menerima pesan cerita, tapi juga mendapatkan relaksasi.

Menurut Clara, idealisme, bisnis, dan hiburan adalah rumus segitiganya dalam menulis. Dengan rumusnya itu, buku-bukunya terbilang bestseller. Uniknya, suaminya justru bukan termasuk penikmat bukunya. “Suami saya, yang akuntan, orangnya lurus. Dia tidak suka baca buku fiksi,” ujarnya. Tapi saban ada resensi buku Clara di surat kabar dan majalah, Nicholas selalu membaca ulasan-ulasan tersebut.

Saat ini Clara tak punya target jumlah menulis buku dalam setahun. Dia juga tak membatasi diri dengan genre, meski berfokus pada drama keluarga, yang lebih kena dengan ide-idenya. Dia juga tak berambisi menjadi penulis bestseller internasional dengan karya diterjemahkan ke pelbagai bahasa. “Saya mau fokus ke Indonesia dulu,” katanya.

Meski sibuk menulis, Clara selalu berusaha mengakhiri aktivitasnya pada pukul enam petang. Dia menutup harinya dengan kumpul bersama keluarga. Malam itu, suaminya pulang agak larut, sehingga Clara makan malam hanya bersama kedua anaknya.

Seusai makan, mereka menonton televisi. Saya pamit meninggalkan Clara asyik berbincang dengan kedua anaknya, yang fasih berbahasa Inggris.

3 Responses to "CLARA NG: KEGELISAHAN BERBUAH PENGHARGAAN"

Begitu sukarkah menghasilkan buku, sama ada buku fiksyen, buku ilmiah atau buku bukan fiksyen? Buku individu yang hendak menjadi penulis tetapi ramai yang tidak berjaya, apatah lagi sebagai penulis yang dapat memberikan sumbangan yang bermakna di dalam dunia penulisan. Malah bukan menjadi rahsia lagi, ada yang masih lagi bermain dengan angan-angan. Mengapa anda hendak menadi penulis buku? Menulis buku dapat dilakukan sepenuh masa sebagai profesional dan dapat juga sebagai kerjaya sampingan.

selamat pagi bu clara..

maaf, kalau boleh saya minta petunjuk anda bagaimana agar bisa menjadi seorang penulis buku yang baik..

terima kasih

Hi Lina, coba kontak langsung ke Clara, follow saja twitternya, @clara_ng, bisa tanya langsung ke dia tuh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: