dunia buku (beta)

KARENA ANAK TAK LUPUT DARI KESEDIHAN

Posted on: July 28, 2009

oleh: Okta Wiguna

Burung-burung terbang pulang ke sarang. Saatnya burung-burung itu bertemu sang induk di sarang mereka yang nyaman di pohon. Pipi tidak seberuntung burung-burung itu, sebab tadi pagi bundanya meninggal dunia. Di mana Bunda sekarang? Ke mana Bunda pergi? Bolehkah Pipi ikut bersama Bunda?

Itulah isi benak Pipi, anak perempuan yang menjadi tokoh utama dalam buku cerita bergambar Kerlip Bintang di Langit karya Clara Ng. Buku tersebut adalah satu dari lima buku dalam seri Bagai Bumi Berhenti Berputar, yang mengangkat berbagai peristiwa dan masalah menyedihkan dalam kehidupan seorang anak, seperti sakit, kematian, dan perceraian.

Sementara sebelumnya Clara banyak menulis fabel yang ditujukan kepada pembaca balita dengan tema kehidupan sehari-hari, kali ini ia menyusun buku yang diarahkan kepada anak berusia sekolah dasar. Tema ceritanya mungkin tak diminati oleh penulis lain dan acap kali dihindari para orang tua.

Clara, yang jadi langganan penghargaan kategori buku anak Adikarya Ikatan Penerbit Indonesia, memaparkan berbagai hal yang mungkin dialami dan dirasakan anak yang kebetulan menghadapi masalah yang membuatnya sedih. Misalnya, dalam Jangan Lupa Aku Mencintaimu, Clara mengisahkan soal perceraian, dari pertengkaran orang tua yang kadang harus disaksikan anak hingga perasaan bersalah anak karena berpikir merekalah penyebab perceraian.

Clara bisa memetakan dengan detail berbagai sendi pikiran anak terkait dengan hal-hal tersebut setelah menjalankan riset dengan mewawancarai kenalannya yang pernah merasakan pengalaman pahit itu. Ia menelusuri semua yang mereka lihat dan rasakan sebelum mengisahkannya kembali tanpa kelewat rumit atau bertele-tele. Sebuah pekerjaan yang tak mudah karena harus menuangkan satu masalah yang kompleks, seperti kematian, dalam kalimat-kalimat singkat pada buku yang tebalnya sekitar 20 halaman ini.

Meski ceritanya memilukan hati, bukan berarti buku ini gelap dan menakutkan. Sebaliknya, Muhammad Taufiq memberikan ilustrasi dengan warna-warna cerah. Bahkan ilustrator yang juga meraih penghargaan Adikarya Ikapi ini kadang menyelipkan gambar-gambar lucu.

Dari lima buku dalam serial ini, yang idenya lumayan segar dan penggarapannya matang adalah Pohon Harapan. Clara cukup jeli melihat kanker sebagai masalah yang bisa menimpa anggota keluarga tanpa pandang usia, dengan efek samping pengobatan yang tak mudah dicerna oleh anak.

Clara ingin anak lebih siap mental dalam menghadapi persoalan tersebut. Ia memilih kanker tersebut terjadi pada adik tokoh utama ceritanya, yang diceritakan harus bolak-balik ke rumah sakit dan rambutnya rontok akibat pengobatan itu.

Clara menambahkan pula kesepian yang dialami tokoh utama karena perhatian orang tuanya lebih tertuju kepada adiknya. Dalam kondisi sedih itu, buku tersebut mengajak anak tak putus asa dengan menanam pohon harapan tempat menggantungkan surat-surat doa kesembuhan bagi sang adik.

Namun, tak semua solusi yang ditawarkan serial ini masuk akal. Misalnya saja dalam Kerlip Bintang di Langit, si penulis menawarkan bintang sebagai celah langit tempat orang tua yang meninggal mengintip ke dunia, dan anak bisa berkomunikasi dengan mereka lewat mengarahkan cahaya senter ke langit.

Menurut Clara, solusi sederhana itu lebih baik ketimbang sama sekali tak memberikan jawaban kepada pertanyaan anak atas masalah-masalah itu. Clara ingin bukunya ini membantu anak-anak jika peristiwa yang menyedihkan menimpa mereka, dan juga bisa berempati seandainya hal yang sama terjadi pada orang di sekitar mereka. ”Anak-anak tak terhindarkan dari peristiwa-peristiwa yang menyedihkan, dan mereka butuh penjelasan yang bisa membantu mereka menghadapinya,” kata Clara kepada Tempo, beberapa pekan yang lalu.

Sebagian mungkin berpendapat anak belum waktunya menerima bacaan berisi konsep-konsep yang berat, seperti penyakit ganas, kematian, dan perceraian. Jim Trelease, penulis yang mengampanyekan kebiasaan mendongeng kepada anak, berpendapat buku cerita anak yang penuh kegetiran seperti ini justru positif bagi anak.

“Cerita ini mengakui di hadapan anak hal-hal yang berusaha ditutupi atau dihindari oleh sebagian orang tua dan guru,” tulis Trelease dalam bukunya Read Aloud Handbook. ”Buku yang demikian itu menawarkan harapan dan mendorong anak agar berani menghadapi dunia.”

Menurut Trelease, dari pengalaman sehari-harinya anak secara alami bisa merasakan bahwa dunia pada dasarnya dingin dan kejam, kapan saja bisa memangsanya. “Mengirim seorang anak ke dalam dunia semacam itu tanpa persiapan adalah satu kejahatan,” kata Trelease.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.