dunia buku (beta)

Archive for the ‘cerita buku’ Category

Buku-buku musisi membanjiri rak-rak buku biografi di toko buku. Ruang Baca, suplemen khusus dunia perbukuan Koran Tempo, membedah buku-buku tersebut.

coveroktober09

(klik pada gambar untuk mengunduh 20 halaman file pdf Ruang Baca edisi Oktober 2009)

Cerita Sampul edisi ini mengulas buku musisi dalam dan luar negeri. Beberapa buku yang dibahas antara lain milik Fariz RM, Krisdayanti, ST12, Kurt Cobain, dan Jewel.

Menu artikel dan resensi buku Ruang Baca edisi Oktober 2009: Read the rest of this entry »

oleh: Okta Wiguna

Bagai laut, literatur tentang batik memiliki masa pasang dan surutnya. Dunia penerbitan buku modern sempat dibanjiri buku tentang batik pada 1920-an, yang rata-rata berisi pengenalan tentang kain asal Indonesia ini.

Lantas, pada dekade 1970-an muncul kembali buku yang membahas teknik membatik dan kreasi yang berusaha keluar dari jalur tradisional. Setelah itu, buku batik sepi lagi, dan baru kembali 20 tahun kemudian, masih dengan tema buku pendahulu namun dengan kemasan yang lebih menarik bagi pembaca awam.

Memasuki tahun 2000, buku-buku tentang batik kian banyak. Dan kali ini lebih berfokus pada desain pola dan corak batik, ditambah penggalian pada aspek sejarah dan sisi budayanya.

Sayangnya, menjelang batik ditahbiskan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO pada Oktober mendatang, dunia literatur Indonesia justru masih miskin buku yang mengkaji serta mendokumentasikan desain-desain batik.

Walau begitu, bukan berarti tak ada sama sekali buku batik. Read the rest of this entry »

Ada-ada saja cara guru mendorong muridnya membaca buku. Rongotai College, sebuah sekolah di Wellington, Selandia Baru, menyogok murid-muridnya dengan sekaleng minuman soda dan voucher pulsa telepon seluler jika mereka mau membaca buku.

Sekolah tersebut memberikan sekaleng minuman soda secara cuma-cuma jika seorang murid bisa membuktikan telah membaca dua buku. Jika mereka menunjukkan bukti membaca hingga 20 buku maka akan dihadiahi voucher pulsa ponsel. Hasilnya, Read the rest of this entry »

Presiden Direktur dan Pendiri Mizan, Haidar Bagir (Dwianto Wibowo / TEMPO)

Presiden Direktur dan Pendiri Mizan, Haidar Bagir (Dwianto Wibowo / TEMPO)

Oleh: Okta Wiguna

Di dunia perbukuan, novel Laskar Pelangi sungguh fenomenal. Angka penjualannya fantastis. Ketika diangkat ke layar lebar, Laskar Pelangi juga meledak. Ia menjadi satu dari sedikit film Indonesia yang ditonton jutaan orang di bioskop.

Sukses itu tidak akan tergapai seandainya tak ada strategi bisnis yang visioner dari pendiri sekaligus Presiden Direktur Mizan, Haidar Bagir. Pria kelahiran Solo, Jawa Tengah, 52 tahun silam, inilah yang memutuskan Mizan, yang awalnya penerbit Islam, mulai menggarap buku populer. Salah satunya novel Laskar Pelangi.

Dan lima tahun lalu, Haidar pulalah yang mencetuskan langkah bisnisnya merambah ke layar lebar. Akhir pekan lalu saya mengikuti keseharian putra pasangan Gamar dan Muhammad Bagir ini. Haidar–sapaannya, yang berarti “singa”–tampil karismatik dan hangat meski agak pelit senyum.

Read the rest of this entry »

oleh Okta Wiguna

Suatu malam di musim gugur Moltimer Folchart membacakan buku Tintenherz untuk istri dan putrinya sembari duduk di depan perapian. Saat membaca bab ketujuh tiba-tiba saja tokoh cerita yang namanya disebut muncul di hadapan mereka.

Sayangnya yang muncul justru tokoh-tokoh jahat yang ternyata berniat meneruskan kejahatan mereka di dunia nyata. Mo dan putrinya Meggie lari dari kejaran mereka sembari mencari cara mengeluarkan istrinya yang bertukar tempat dengan para pengejar itu dalam cerita Tintenherz.
Read the rest of this entry »

Kabar buruk itu datang ke telinga penerbit buku awal Maret lalu. Bos-bos perusahaan penerbitan yang sedang khawatir dengan resesi global pun semakin ketar-ketir mendengar berita yang sama sepanjang bulan ini.

“Pengunjung toko buku mulai turun. Yang datang pun tak banyak membeli buku jadi penjualan pun ikut turun,” kata General Manager Yayasan Obor Indonesia, Kartini Nurdin, menirukan ucapan dari staf sebuah toko buku.

Berita itu pun sejalan dengan data omset penerbit Obor yang menurun dalam tiga bulan terakhir. Memang penjualan tak sampai menurun drastis namun Kartini mencatat selama bertahun-tahun penjualan bukunya selalu tinggi pada Februari dan Maret. “Bulan-bulan mahasiswa masuk kuliah biasanya penjualan bagus tapi tahun ini tak setinggi biasanya,” ujarnya.

Kartini menduga pembeli buku Read the rest of this entry »

Mangkuk berisi buah-buahan segar yang tertutup saus salad menemani Hans-Michael Fenderl sarapan di Hotel Borobudur, Jakarta. Pagi itu Account Manager Frankfurt Book Fair ini menceritakan yang dilihatnya di ajang pameran buku tersebut Oktober tahun lalu.

Wajahnya agak merengut resah saat mulai bercerita soal krisis global. Rupanya tanda-tanda industri buku terjangkit dampak resesi ekonomi sudah mulai terlihat dari beberapa penerbit yang membatalkan kunjungannya dan peserta yang jadi langganan pun memesan ruang stand yang lebih kecil dari biasanya.

Meski begitu Fenderl tetap optimistis karena Read the rest of this entry »

cover buku dari situs yayasan obor indonesia

Titik hitam yang muncul di tengah lautan menjadi awal gelapnya hidup Okichi Saito. Kapal hitam itu membuang sauh di Teluk Shimoda serta menurunkan orang berkulit pucat dan berambut merah.

Towsend Harris, pemimpin armada Amerika Serikat, memaksa Jepang membuka isolasinya pada 1856. Di Shimoda, Harris langsung terpikat saat melihat Okichi yang jelita. Gadis yang sejak remaja dikirim ayahnya menjadi geisha itu pun dipisahkan dari tunangannya. Sang gadis kemudian dikorbankan orang-orang Shimoda menjadi tojin alias gundik Harris, pria paruh baya, agar mereka luput dari penindasannya.

Saat Harris pulang kampung dan sakit-sakitan, Okichi ditinggal. Okichi, yang terbuai mimpi kebebasan, harus kecewa berat karena penduduk Shimoda malah menganggapnya antek para setan rambut merah dan mengucilkannya.

Lika-liku hidup Okichi itu Read the rest of this entry »

Angelina Anthony, 27 tahun, menyukai novel fiksi fantasi sementara teman sekantornya Aulia Halimatussadiah, 25 tahun, gemar membaca buku nonfiksi. Hobi itu membuat kedua karyawan perusahaan teknologi informasi itu membuat mereka sering berdiskusi soal buku.

Lantaran sama-sama bekerja mengulik komputer dan internet, keduanya sering mengobrol soal asyiknya bekerja di toko buku online Amazon.com. Akhirnya mereka mengawinkan pekerjaan dan hobi pada Februari 2006 dengan membuka toko buku online yang dinamai Kutukutubuku. “Kutunya dua karena ada dua orang pecinta buku di belakangnya,” kata Aulia.

Mereka merogoh kocek sekitar Rp 10 juta sebagai modal awal. Pengembangan situs dikerjakan Aulia yang sarjana teknik informasi Universitas Gunadarma sementara desainnya diserahkan pada Angel yang memegang gelar sarjana multimedia dari Universitas Victoria, Melbourne, Australia.

Dalam waktu enam bulan saja, Read the rest of this entry »


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.