dunia buku (beta)

MENIMBANG SUARA MUSLIM

Posted on: September 4, 2008

oleh: Okta Wiguna

Potongan tayangan konferensi pers Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld itu membuat Jim Clifton gundah. Saat itu Rumsfeld dengan entengnya menjawab tak tahu ketika ditanya soal pendapat kaum muslimin tentang tragedi 11 September 2001. “Tak ada jajak pendapat Gallup tentang hal itu,” ujarnya.

Sadar akan kekosongan jajak pendapat opini muslim, Jim Clifton, CEO Gallup, melakukannya dengan lebih dari 50 ribu wawancara yang dilakukan dalam bahasa lokal terhadap responden di 35 negara. Gallup mengklaim jajak pendapat sejak 2001 itu bisa mewakili opini 90 persen dari 1,3 miliar jiwa umat Islam di dunia.

John Esposito, profesor bidang kajian Islam di Universitas Georgetown dan penulis beberapa buku nonfiksi dan ensiklopedi Islam, membuat interpretasi atas hasil jajak pendapat itu. Dia dibantu Direktur Eksekutif Gallup Center for Muslim Studies Dalia Mogahed. Hasilnya bisa dibaca dalam buku yang diluncurkan Penerbit Mizan, Minggu, 10 Agustus lalu.

Esposito dan Mogahed menerjemahkan data keras tersebut menjadi tiga poin besar seputar isu-isu Islam yang menjadi kontroversi di masyarakat Barat. Mereka menguraikan kaitan Islam dengan demokrasi, radikalisme dalam Islam, serta keinginan dan pandangan perempuan Islam tentang agamanya.

Pria kelahiran New York 68 tahun silam itu bercerita, proses penulisan buku ini menggelorakan semangat sehingga ia sulit tidur saking antusiasnya. Banyak pengamat dan politikus berbicara tentang Islam, tapi “tak jelas dasar kesimpulan mereka itu apa”. Itu kata Esposito, yang ditemui Okta Wiguna di Hotel Shangri-La, Jakarta, pertengahan Agustus lalu.

Dalam analisisnya di buku ini, Esposito memaparkan temuan dalam jajak pendapat yang berlawanan dengan anggapan mengenai Islam yang selama ini berkembang di dunia Barat. Ternyata, ada kesamaan pandangan antara muslim dan masyarakat Barat, yang sama-sama mengutuk serangan terhadap warga sipil. Esposito juga menemukan bahwa muslim dan Barat sama-sama mengagumi kemajuan dan teknologi Barat, bahkan keduanya ingin membentuk konstitusi yang menjamin kebebasan berbicara tidak diintervensi oleh pemimpin agama.

Label Islam yang lekat dengan kekerasan pun diruntuhkan oleh hasil survei itu. Esposito dan Mogahed menulis, masyarakat muslim menginginkan kehidupan yang lebih baik dan tidak menyukai masa depan penuh konflik dan kekerasan. “Muslim tidak membenci segalanya soal Barat. Mereka hanya tak menyukai kebijakan politik dan luar negerinya terhadap Islam,” ujar Esposito.

Esposito bahkan yakin data-data yang disajikan dalam buku ini menunjukkan bahwa benturan kebudayaan bukanlah hal mutlak dan tak terhindarkan. Menurut dia, yang ada justru kepedulian yang sama terhadap kerukunan dunia dan keinginan akan perbaikan kondisi ekonomi ketimbang kehancuran.

Walau banyak angka dan persentase, pemaparan buku ini sangat luwes. Sama seperti sosok Esposito ketika menjelaskan argumennya dengan renyah dan penuh humor.

Target pembaca buku ini memang masyarakat Barat. Ini bisa dilihat dari pengantar singkat soal Islam dan ajarannya. Muslim yang membaca buku ini akan menemukan bahwa Esposito dan Mogahed tidak sedang berbicara kepada mereka. Lantas apa pentingnya buku ini bagi pembaca Indonesia?

Direktur Prince Alwaleed Bin talal Center for Muslim-Christian Understanding di Walsh School of Foreign Service itu berpendapat informasi berskala internasional dalam buku ini tetap penting bagi masyarakat Indonesia guna memahami pemikiran komunitas muslim di belahan dunia lain. Selain itu, tersebar pula fakta soal muslim di negara ini yang barangkali tak digarap oleh Badan Pusat Statistik atau lembaga survei partikelir. Misalnya, salah satu jajak pendapat menunjukkan bahwa tak satu pun responden di Tanah Air yang mendukung pembenaran agama terhadap serangan ke menara kembar WTC di New York. Jajak pendapat itu juga menyebutkan bahwa mayoritas responden Indonesia menganggap jihad sebagai perang terhadap musuh Islam. Sementara itu, responden di Lebanon tak menyinggung soal perang ketika mereka mendefinisikan jihad.

“Tentu saja, ada yang berkata, tahu apa orang Barat seperti saya ini soal Islam,” ujar Esposito, “tapi yang bicara dalam buku ini bukan saya. Ini suara umat Islam dunia.”

Karena itu pula buku Esposito ini menjadi pedang bermata dua yang bisa mematahkan argumen Islam sebagai agama yang identik dengan kekerasan dan antidemokrasi. Di sisi lain, buku ini bisa meruntuhkan klaim kaum ekstremis bahwa kekerasan mereka didukung oleh agama dan yang diinginkan semua muslim di dunia, sebab faktanya mayoritas tak mendukung tindakan mereka. “Jadi, siapa pun yang bicara soal Islam dan mengatasnamakan muslim harus berhadapan dengan data-data ini,” ujarnya.

Tentu saja, ada yang akan skeptis bahwa validitas data soal Islam yang dikumpulkan lembaga survei Barat pastilah membela kepentingan Barat dan tak obyektif. “Itu anggapan yang benar-benar bodoh,” kata Esposito. Ia menegaskan Gallup mensurvei secara independen, ilmiah, dan tanpa pretensi apa pun. Dalam lampiran buku ini dimuat uraian data dan metodologi serta klaim kesahihan hasilnya.

Sayangnya, data terperinci hasil survei hanya bisa diakses dengan membayar US$ 20 ribu. Inilah yang mengundang kritik Robert Satloffis, Executive Director of the Washington Institute for Near East Policy. “Apa ini berarti pembaca harus percaya saja pada nama besar Gallup dan kejujuran kedua penulisnya?”

Dalam esainya yang dipublikasikan situs weeklystandard.com, Satloffis menganggap kesimpulan buku ini kelewat optimistis mengingat Esposito pegiat dialog Barat-Islam. Ia menolak kesimpulan bahwa muslim berpaham radikal hanya tujuh persen atau sekitar 91 juta orang.

Satloffis mempermasalahkan keputusan Mogahed menggolongkan sekitar 23 persen responden yang menyatakan serangan ke WTC ada benarnya ke dalam kelompok nonradikal. “Padahal, kelompok itu berarti ada tambahan 300 juta orang radikal. Jadi, apa benar muslim punya kesamaan dengan masyarakat Barat?”

Pada akhirnya, umat Islamlah yang bisa membuktikan kesahihan data ini. Pembaca bisa menimbang sendiri kebenaran kesimpulan Esposito di buku yang versi terjemahannya pertama terbit di Indonesia ini.

Judul Buku: Saatnya Muslim Bicara! Opini Umat Muslim tentang Islam, Barat, Kekerasan, HAM, dan Isu-isu Kontemporer Lainnya
Penulis: John L. Esposito & Dalia Mogahed
Penerbit: Mizan, Bandung, Agustus 2008
Tebal: 252 halaman

1 Response to "MENIMBANG SUARA MUSLIM"

sekarang memang saatnya islam Bersuara… agar bisa menjadi agama yang tidak kalah dengan agama lain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: