dunia buku (beta)

MENGKRITIK INDONESIA YANG JAIM

Posted on: October 6, 2008

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang berkemeja safari tangan panjang dan celana panjang hitam diapit dua mantan presiden Amerika Serikat Bill Clinton dan George Bush. Clinton sendiri hanya megenakan kaus kerah dan celana jeans sementara Bush senior tak kalah santai dengan kemeja lengan pendeknya.

Pemandangan langka saat ketiganya mengunjungi korban bencana gelombang tsunami di Aceh tersebut dicatat praktisi kehumasan, Cristovita Wiloto, sebagai kekalahan telak strategi kehumasan Indonesia. Ketiganya sama-sama menyampaikan keprihatinan namun pesan itu lebih mengena dengan busana Clinton dan Bush yang terkesan siap ikut bekerja membantu para pengungsi.

Sebaliknya Yudhoyono yang tampil kelewat formal di depan korban bencana justru dinilai Cristov gagal menciptakan kepercayaan publik. Kepercayaan publik atau diistilahkan Cristov sebagai public trust inilah yang diulasnya dalam buku Behind Indonesia’s Headlines.

Buku yang memuat 50 artikel Cristov yang pernah dimuat di surat kabar Bisnis Indonesia pada 2003-2008 ini merupakan kelanjutan dari buku pertamanya “The Power of Public Relations”. Selain gambar sampul yang sama, format buku ini pun serupa, yakni kompilasi artikel yang tidak saling bertautan.

Lewat artikel-artikel itu ia memaparkan berbagai kegagalan pemerintah meningkatkan kepercayaan publik pada pemerintah dan memperbaiki citra Indonesia di luar negeri. Pendiri perusahaan konsultan humas Power PR ini mencontohkan kampanye keberhasilan pemerintahan Yudhoyono – Kalla menekan angka kemiskinan tak banyak dipercaya karena faktanya masyarakat semakin terpojok dengan kenaikan harga kebutuhan pokok.

Upaya perbaikan citra Indonesia di mata publik internasional dengan menjadi negara pendamai konflik bersenjata serta berbagai promo kebijakan investasi pun tak berhasil. Langkah yang menghabiskan banyak dana itu dengan cepat tergerus oleh ranking yang jeblok dalam indeks daya saing ekonomi dan indeks korupsi.

Cristov menilai kagagalan tersebut terjadi lantaran pemerintah masih memakai strategi kehumasan yang semata-mata berorientasi pada peningkatan reputasi dan mendongkrak citra. ”Strategi jaim atau menjaga image itu sudah kadaluarsa dan ketinggalan zaman,” kata Cristov.

Ketimbang sibuk memoles citra, Cristov berpandangan pemerintah seharusnya menciptakan dan memelihara public trust yang hanya bisa diperoleh lewat kinerja yang baik. Strategi kehumasan apapun tak akan pernah berhasil jika kinerja dari organisasi yang diwakili sebenarnya jeblok.

Strategi ketinggalan zaman itu juga masih dijalankan perusahaan swasta lewat program corporate social responsibility. Bagi Cristov program tersebut tak bisa memperbaiki reputasi jika sehari-harinya perusahaan tak membantu perbaikan kehidupan masyarakat lewat program usaha kemitraan dan memperlakukan buruh secara manusiawi.

Begitu pula media massa yang bagi Cristov akan sulit mendapat kepercayaan khalayak jika tak membantu masyarakat memahami sebuah masalah dengan mengulasnya sampai tuntas. “Media hanya menulis puncak gunung es dan tidak membahas isu sampai ke inti masalahnya,” ujarnya.

Media yang berusaha tampil keren dengan selalu menyajikan isu yang hangat justru menjadi sasaran empuk strategi pengalihan isu. Dengan mudahnya media terjebak isu perebutan Ambalat dengan Malaysia pada April 2005 yang sengaja dilancarkan untuk meredam berita rencana kenaikan harga bahan bakar minyak. Begitu pula ketika ‘tim humas’ mantan presiden Abdurrahman Wahid menguyur isu panas perselingkuhan sang presiden dengan cerita pembuatan pesawat kepresidenan secanggih Air Force One milik presiden Amerika Serikat.

Banyak contoh-contoh lain yang ditulis Cristov yang sayangnya tak selalu berisi pembahasan dari sudut pandangan kehumasan. Tulisan yang disajikan pun kelewat singkat sehingga pembahasan sebuah masalah pun jadi kurang mendalam.

Inilah yang menjadi kelemahan buku berformat kumpulan artikel seperti milik Cristov. Penulisnya seringkali hanya memindahkan tulisan yang pernah dimuat di suratkabar tanpa mengemas ulang untuk format buku yang tidak memiliki keterbatasan ruang seperti surat kabar.

Pembaca suratkabar tak punya banyak waktu untuk membaca tulisan yang kelewat panjang sementara penikmat buku justru sengaja meluangkan waktunya. Inilah yang seharusnya ditangkap oleh Cristov dengan lebih fokus membahas beberapa contoh kasus saja namun dengan penjelasan dan data yang lebih mendetil.

Buku ini akan lebih informatif jika Cristov membukanya dengan sebuah tulisan yang memaparkan benang merah persitiwa empat tahun terakhir yang diperhatikannya dari sudut pandang kehumasan. Ia bisa membukanya dengan tulisan soal strategi kehumasan dan public trust yang pada buku ini baru muncul di halaman 137.

Lantas ia bisa melanjutkan dengan contoh kasus kegagalan meraih public trust itu. Akan lebih baik jika ia juga meluangkan waktu mencari contoh kesuksesan strategi kehumasan yang sukses meraih kepercayaan publik.

Langkah-langkah ini akan lebih membangun kepercayaan pembaca terhadap pemikiran Cristov soal public trust ketimbang upaya mendongkrak citra positif buku ini dengan memuat 38 halaman pujian buku dari 70 orang yang dicatat oleh Museum Rekor Indonesia sebagai buku dengan komentar tokoh terbanyak.

Okta Wiguna

Judul: Behind Indonesia’s Headlines
Penulis: Cristovita Wiloto
Penerbit: PowerPR Global Publishing 2008
Tebal: lviii + 265 halaman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: