dunia buku (beta)

SAAT WARTAWAN JADI PEMANDU WISATA

Posted on: October 27, 2008

Pria itu tampil sederhana namun flamboyan. Jas biru tua menutupi kemeja biru muda tak berdasi yang dipadu dengan celana krem dan sepatu kulit coklat. Tak terlihat merek mewah di tas selempang hitam diletakkan di samping kursinya, begitu juga di leher, pergelangan tangan dan jarinya tak ada benda-benda berbahan emas mengkilat.

John Berendt, begitu namanya, terlihat masih prima padahal usianya sudah 69 tahun. Ia adalah penulis buku Midnight in the Garden of Good and Evil yang memuat kisah nyata kasus pembunuhan di kota Savannah, Amerika Serikat. Buku itu bercokol di daftar buku terlaris versi New York Times selama empat tahun dan masuk menjadi finalis penghargaan Pulitzer.

Penulis buku nonfiksi genre novel nonfiksi, John Berendt, tengah membagi rahasia teknik penulisan dalam workshop yang digelar Kedutaan Amerika Serikat di Wisma Metropolotan II Jakarta, Jumat, 10 Oktober 2008. (Okta Wiguna / duniabuku.wordpress.com)

Penulis buku nonfiksi genre novel nonfiksi, John Berendt, tengah membagi rahasia teknik penulisan dalam workshop yang digelar Kedutaan Amerika Serikat di Wisma Metropolotan II Jakarta, Jumat, 10 Oktober 2008. (Okta Wiguna / duniabuku.wordpress.com)

Awalnya penerbit kebingungan mencari cara mempromosikan cerita nonfiksi yang ditulis dengan gaya penulisan jurnalisme sastrawi sehingga mirip sebuah novel tersebut. Dengan pesimistis mereka mencetak 25 ribu eksemplar dan akhirnya terkesima dengan total penjualan mencapai 2,5 juta eksemplar.


Meski terbilang penulis sukses dan di negaranya menjadi selebritas, ia tak kelihatan berusaha menjaga jarak. Hangat dan penuh canda, begitulah Berendt saat bertemu di Hotel Borobudur Jakarta awal Oktober lalu sebelum ia menghadiri Ubud Writers Festival di Bali.

Ia bicara dengan intonasi yang berubah-ubah seperti pendongeng. Sesekali pria bertingggi sekitar 180 sentimeter ini melontarkan lelucon kadang ditambahi dengan ekspresi yang lucu. Ia jenaka namun tidak seperti si badut Jim Carrey, ia mirip komedian Steve Martin yang dengan santai mengekspresikan leluconnya. Memang tidak mirip betul, tapi setidaknya keduanya sama-sama memiliki rambut putih keperakan.

Sisi humoris pria asal Syracuse, New York, inilah yang membawanya bergabung ke majalah kampus Harvard Lampoon saat kuliah di Universitas Harvard di akhir 1950-an. Kala itu majalah humor ini tengah gemar memparodikan berbagai majalah terkenal.

Redaksi majalah Mademoiselle tertarik dengan ide itu dan meminta para jurnalis kampus itu memparodikan mereka. Lampoon membuatnya dan ternyata tulisan Berendt pada edisi itu memesona redaksi majalah Esquire.

Berendt yang tahun itu lulus dari jurusan sastra Inggris langsung menerima pinangan Esquire. Sejak itu ia menekuni profesi wartawan hingga lebih dari 15 tahun sebelum akhirnya membanting stir menjadi penulis buku..

Rupanya ia jenuh dan ingin ada perubahan dalam ritme hidupnya. “Saya ingin terlibat dalam proyek yang lebih besar dari sekedar menulis artikel dan kolom jadi saya putuskan untuk menulis buku,” ujarnya.

Saat itu pria yang hobi berwisata ini sedang banyak banyak membaca tentang uniknya kota-kota di wilayah selatan Amerika. Saat berkunjung ke kota Savannah yang eksotis dan membaca soal kasus pembunuhan seorang gay oleh kekasihnya yang cukup terpandang di kota itu, Berendt memutuskan kasus itu menjadi tema utama buku pertamanya.

Ia menulis cerita kasus pembunuhan dan reksi warga kota dengan cara nonfiksi tapi memakai pendekatan novel. Pembacanya akan menikmatinya seolah mereka sedang membaca sebuah novel.

Berendt mengadaptasi gaya ini dari salah satu penulis favorit, Truman Capote, yang menjadi salah satu pelopor jurnalisme sastrawi. Namun berbeda dengan Capote, ia tak mebatasi diri pada karakter utama bukuya tapi lebih mengeksplorasi karakter orang dan dengan kebiasaan penduduk Savannah dengan mendetil.

Berendt memang mengagumi penggambaran karakter begitu hidup dan mendetil seperti yang dilakukan penulis legendaries Charles Dickens. Karena itu ia hijrah ke Savannah hanya dan hidup bersama karakter-karakter yang ditulisnya agar bisa memahami cara mereka berpikir dan bertindak

Satu keunikan Berendt, ia selalu menyuguhkan karakter-karakter unik yang muncul di setiap bab bukunya. “Saya suka orang yang eksentrik mereka menciptakan dunianya sendiri,” ujarnya.

Nampaknya ia selalu saja bisa menemukan orang-orang yang tidak biasa sampai-sampai ia dijuluki magnet orang-orang aneh. Namun manusia uni tersebut tidak datang sendiri, justru Berendtlah yang memburu setiap orang yang menurut intuisinya punya cerita dan kebiasaan yang menarik.

Ambil contoh Luther Driggers, seorang ahli insektisida di Savannah yang jarang menghabiskan sarapannya di kedai karena lebih sering hanya menatap makanannya lalu pergi. Ketika suatu hari Luther menyapanya, kesempatan disambar Berendt agar bisa mendekatinya hingga akhirnya ia menemukan pria itu gemar membius lalat dan menempelkan seutas benang pada pungungnya.

Saat kawanan lalat itu tersadar, ia membawanya berkeliling seperti orang berjalan-jalan bersama anjingnya. Bahkan Berendt juga menemukan gossip Luther punya sebotol racun super yang akan ditebarkan di jaringan air minum kota itu benar adanya!

Ia pun tak kenal menyerah dan akan menanyakan pertanyaan yang sama berulang-ulang atau datang ke rumah narasumbernya berkali-kali sampai mendapatkan yang ia mau. Pengalamannya menunjukkan, lama-kelamaan mereka akan luluh dan tanpa diminta pun akan menceritakan hal-hal yang sebenarnya rahasia.

Godaan membumbui bukunya dengan cerita-cerita rekan memang ada, namun Berendt tetap bertekad bukunya hanya berisi fakta yang nyata. “Cerita yang menarik akan lebih menarik jika orang tahu itu bukan fiksi,” ujarnya. “Saya tak tertarik menulis fiksi karena saya menikmati menulis hal-hal yang nyata.”

Agar semua peristiwa dan percakapan seuai dengan aslinya, Berendt selalu membawa notes di saku belakang celananya dan mencatat semua yang dilihat dan didengarnya. Saat buku pertamanya selesai ditulis, catatan Berendt menumpuk menjdi 23 buku tebal penuh dengan transkrip wawancara, gambar, dan kliping koran.

Akhirnya pada 1994 novel nonfiksi itu rampung dan terbit dengan judul Midnight in the Garden of Good and Evil. Tak ada cerita soal penolakan dari penerbit karena Berendt yang sudah lama berprofesi menjadi editor tahu benar tulisan macam apa yang dicari perusahaan penerbitan.

Novel ini bukan saja melambungkan nama John Berendt tapi juga membuat jumlah perjalanan wisata ke Savannah meroket. Penduduk kota yang awalnya sebal karena sisi jelek mereka ditulis akhirnya malah memberikan penghargaan kunci kota kepadanya.

Kemudian novel itu diadaptasi menjadi film yang disutradari Clint Eastwood dan dibintangi Kevin Spacey dan John Cusack. Sebenarya Berendt tak terlalu suka karena akan ada banyak bagain yang dipangkas tapi “Saya tak membencinya, film itulah yang membelikan saya sebuah apartemen mewah di New York,” kata dia.

Banyak yang berkomentar karakter utama novel nonfiksi Berendt ini sebenarnya kota Savannah itu sendiri. Maka ia memutuskan menulis soal kota lagi tapi kalau menampilkan kota di Amerika lagi dirasanya akan membosankan.

Maka saat ia tiba di kota air Venesia di Italia, Berendt langsung memilih kota ini saat tahu dua hari sebelumnya geudng opera terakhir kota itu, Fenice, baru saja terbakar. Apalagi rumor beredar kemungkinan ada pihak yang sengaja membakarnya.

Pendekatan yang sama dipakai untuk menuliskan peristiwa kabakaran, penyelidikannya, dan semua yang terjadi di Venesia hingga gedung opera itu selesai di renovasi. Berendt pindah ke Venesia dan berkeliling kota siang dan malam yang digambarkannya bagai seorang jurnalis yang tak pernah berhenti memburu berita.

Semua kerja keras itu dirangkumnya pada novel nonfiksi keduanya yang berjudul keduanya yang berjudul The City of Falling Angels. Buku yang diterbitkan pada 2005 itu pun memuncaki daftar buku terlaris.

Banyak yang menyangka kesuksesan penulis yang menetap di New York ini datang dari keberuntungan karena menemukan cerita di menarik terjadi di tempat yang unik. Padahal Berendt tak sekedar asal saja memilih seting cerita karena Savannah dan Venesia dipilih dengan alasan yang kuat.

Menurutnya, kedua kota itu punya kesamaan yakni terisolasi secara geografis dan sosial. Savannah terkurung oleh hutan dan rawa-rawa sementara Venesia berada di sebuah laguna terpisah dari semenanjung Italia.

Kota yang terisolasi biasanya menciptakan masyarakat dengan tradisi lebih hidup dan berwarna yang dengan sendirinya menarik untuk diceritakan dan pembaca pun seolah menemukan dunia lain yang tak pernah dilihat sebelumnya. Bagi Berendt kunci bukunya adalah alur cerita, karakter, dan seting cerita.

Kalaupun ada rahasia sukses, maka itu adalah kedisiplinan dan waktu yang dialokasikannya untuk riset. Ia banyak menghabiskan waktu mencari informasi termasuk menjelajahi dunia maya hingga membaca blog meski ia sendiri tak punya blog. “Saya ini pecandu internet,” katanya sambil tertawa.

Saat akan menulis soal Venesia, Berendt terlebih dahulu membaca semua buku dan novel soal Venesia yang di usianya yang separuh baya ia bisa menyebutkan semua judul buku itu dan isi ceritanya. Dari hasil penelusuran itulah Semua buku itu hanya menjadikan Venesia sebagai tempat persinggahan tokoh utamanya namun tak ada yang secara mendalam membahas tentang Venesian, penduduk asli kota itu. Cerita soal Venesian, itulah angle yang dipilihnya.

Semua riset itu dilakukan sendiri tanpa bantuan asisten. Menurutnya, asisten hanya akan mencari yang ia minta sementara saat mencari data sendiri kadang ia secara tak sengaja menemukan banyak hal-hal menarik yang bisa ia pakai.

Barangkali inilah yang membuat Berendt menulis buku dalam waktu yang lama. Midninght in the Garden of Good and Evil ditulis selama delapan tahun sementara The City of Falling Angels dikerjakan selama sembilan tahun. “Sebenarnya tak perlu selama itu cuma waktu itu saya merasa tak perlu terburu-buru,” kata dia.

Bagi Berendt yang terpenting bukanlah seberapa banyak novel yang bisa ia terbitkan, tapi seberapa dalam penokohan dan pembahasannya dalam novel itu. Karena itu ia menahan diri meski iri dengan John Grisham yang bisa menghasilkan satu novel setiap sembilan bulan. “Dia membuat novel seperti bikin anak saja,” katanya.

Berendt mengaku dirinya menulis dengan kecepatan yang sangat lambat terutama sekali karena sifat perfeksionisnya. Tak ada ruang untuk ksalahan fakta dan setiap kalimat haruslah sempurna dimana orang akan membacanya sama seperti yang ia maksudkan saat menulisnya.

Untuk tujuan itu pula ia sering meminta orang lain membaca draf novelnya. Masalahnya Berendt selalu lupa diri saat menulis dan bisa bekerja 20 jam nonstop hingga dini hari dan di pagi buta tentunya tak ada orang yang bisa diajak bicara.

Kalau sudah begitu, Berendt akan menelpon apartemennya di New York dan membacakan paragraf demi paragraph yang dituliskan sebagai pesan di mesin penjawab telepon. Setelah itu ia menelpon lagi untuk mendengarkan pesan yang tai ia rekam dan dengan cara itu ia jadi tahu dimana bagian yang mesti dikoreksi.

Berendt ingin pembacanya mendapatkan informasi yang lengkap saat membaca bukunya sekaligus terhibur. Karena itu ia tak hanya membahas soal kasus kriminal yang jadi cerita utama tapi sekaligus mengajak pembacanya berkeliling kota tempat kejadian perkara dan mengenal orang-orang di sana serta menunjukkan hal-hal yang unik dan lucu.

“Saya bukan sekedar narator dalam cerita tapi menjadi pemandu wisata,” ujarnya. “Dan pemandu wisata yang baik selalu memberikan banyak informasi dan menghibur tamunya.”

1 Response to "SAAT WARTAWAN JADI PEMANDU WISATA"

[…] Penulis buku Midnight in the Garden of Good and Evil, John Berendt, membagi trik menulis buku nonfiksi dalam sebuah workshop penulisan yang digelar di Wisma […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: