dunia buku (beta)

SENSASI HIBRIDA FIKSI & MUSIK

Posted on: November 14, 2008

Baris-baris lirik lagu sepertinya selalu menyembunyikan sebuah kisah yang dialami penulisnya. Sesuatu yang menggelitik rasa penasaran yang mencoba menerka cerita yang menginspirasinya membuat lirik itu atau barangkali kisah yang ingin disampaikannya lewat bait-bait lagu.

Beberapa tahun lalu Dewi Lestari alias Dee menggubah lagu berjudul Firasat yang dipopulerkan penyanyi Marcell. Lirik lagu itu menyebut soal alam yang memberi pertanda yang membuat penyanyi berulang kali melantunkan kalimat “Firasatku ingin kau cepat pulang, cepat kembali, jangan pergi lagi.”

Dalam lirik itu ada cerita soal seorang perempuan muda yang mengikuti pertemuan orang-orang yang punya kepekaan terhadap pertanda alam. Ia sendiri berada di klub Firasat itu karena sosok pria muda pencetus klub yang diam-diam dicintainya.

Namun sejak seminggu lelaki yang ucapan-ucapannya bijak itu pergi, perasaan-perasaan aneh mulai menghampirinya seakan alam sedang berusaha menyampaikan pesan. Perasaan yang selalu datang saat orang-orang terdekatnya akan meninggal dunia. Firasat yang ditolaknya tapi sayangnya selalu tepat hingga akhirnya ia hanya bisa berseru dalam hati agar pria itu cepat pulang dan tidak pergi lagi.

Inilah salah satu cerita pendek fiksi karangan Dee berjudul “Firasat” yang disandingkan dengan lagu berjudul sama. Dee menyusun sebelas cerpen dan lagu yang dikemas dalam paket satu buku dan satu cakram padat berjudul Rectoverso.

“Lagu dan cerpen ini bercerita soal cinta terpendam,” kata Dee. “Hampir setiap kita pernah mengalami hal-hal seperti itu.”

Setiap cerpen dan lagu dibuat berpasangan dengan judul dan isi yang sama. Penikmat buku bisa menemukan cerita lebih dalam dari lirik lagu pada cerpennya sedang mereka yang lebih tune dengan musik bisa mendapati seperti apa jika cerita pendek itu digubah menjadi lagu. Inilah yang digagas Dee bersama penerbit Good Faith lewat slogan “Dengar Fiksinya, Baca Musiknya”.

Namun lagu yang dinyanyikan Dee secara solo maupun duet tidak mesti dijadikan semacam soundtrack yang harus dibaca bersamaan dengan cerpennya. Kadang musik sudah berakhir sebelum cerita usai dan sebaliknya. Keduanya bergerak pada kecepatan yang berbeda.

Selain musik dan barisan kata, masih ada foto dan ilustrasi. Dalam “Firasat”, misalnya, saat kesedihan tokohnya memuncak dan ia berlari di bawha hujan deras tiba-tiba saja rangkaian kata berubah menjadi rentetan gambar tetesan air hujan yang mengalir lalu pecah di permukaan jalan yang ditutup gambar air mentes di ujung talang air yang menandakan hujan sudah berhenti sebagai penutup cerita.

Perpaduan ini begitu matang sehingga bisa menciptakan mood yang pas dan mengantarkan sensasi yang berbeda dari membaca cerpen dan mendengarkan musik. Ini tak lepas dari kolaborasi banyak orang dalam Rectoverso yang melibatkan musisi Andi Rianto di sisi musik serta penulis Hermawan Aksan dan Daniel Ziv di sisi buku.

Menciptakan hibrida cerpen dan musik jelas tak mudah sebab keduanya mustahil dicipta bersamaan, jadi kadang musik dicipta berdasarkan cerpen dan sebaliknya. Inilah yang membuat beberapa bagian terasa tak seimbang bahkan dipaksakan misalnya pada “Cicak Di Dinding” dimana ceritanya dalam dan mengena tapi lirik lagunya hanya evolusi sederhana dari lagu anak-anak Cicak-cicak di Dinding.

Meski kesebelas cerpen Dee bernuansa sendu, membacanya tak membosankan karena alurnya ceritanya sangat dinamis. Namun mendengar sebelas lagu yang dengan kesenduan yang sama rasanya kelewat monoton.

Rectoverso ini memang rangkaian repertoar Dee yang eksperimental setelah sebelumnya ia menulis “Perahu Kertas”, novel digital yang diedarkan dalam bentuk cerita bersambung oleh perusahaan operator seluler. Seperti novel digital itu gaya bercerita Dee dalam buku ini lebih populer, ringan dan tak ada ilmu dan teori yang dulu memadati Supernova.

Pembaca Supernova tak akan menemukan lagi duo penulis Ruben dan Dhimas dan perdebatan ilmiah mereka tentang makna dari setiap kejadian dalam cerita. Dee hanya menyisakan kisah cinta yang kusut, kadang sulit ditebak, dan sendu.

Namun kaitan dengan Supernova masih ada karena istilah rectoverso sendiri pernah muncul di novel yang terbit tujuh tahun lalu itu. Jumlah sebelas kisah dan sebelas lagu yang berdampingan atau 11:11 juga sengaja dibuat Dee mengacu pada rentetan angka yang mewakili kehadiran alam spiritual yang bersanding dengan alam material.

Ada begitu banyak proyek kreatif Dee namun barangkali inilah satu-satunya yang menampilkan mantan personil kelompok vokal RSD ini dengan utuh. Dewi Lestari adalah penulis dan penyanyi, kedua sosok yang seolah terpisah dan jarang dilihat orang secara bersamaan. Padahal keduanya sebenarnya satu kesatuan, sebuah rectoverso: dua sisi kertas yang selalu menghadap arah berbeda tapi menjadi satu dan tak terpisahkan sebagai selembar kertas.

Rectoverso
Pengarang : Dewi Lestari
Penerbit : Good Faith, Juli 2008
Tebal : 148 halaman (plus 11 track lagu)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: