dunia buku (beta)

MANGA RASA INDONESIA

Posted on: December 5, 2008

Seorang anak kecil berlari kecil melintasi rak-rak toko buku di Plaza Semanggi, Jakarta. Ia menembus para orang tua yang sedang membaca buku-buku tebal menuju rak-rak tempat manga atau komik terjemahan dari Jepang dipajang.

Di tempat itu sudah banyak anak hingga orang dewasa yang tengah memilih komik. Banyak dari mereka yang memegang komik dengan tangan kanan mereka sambil membaca sinopsis di sampul belakang sementara tangan kirinya sudah menggenggam beberapa komik.

Sejak awal ’90-an manga telah membanjiri toko buku Indonesia dan menyedot perhatian banyak pembaca muda. Penjualannya pun bikin penerbitnya tersenyum. Bahkan dalam daftar penjualan buku terlaris, beberapa judul komik seperti serial Naruto bisa ditemukan di antara buku nonfiksi dan fiksi.

Di tengah-tengah membanjirnya komik terjemahan ini, perlahan-lahan mulai tumbuh manga yang dibuat oleh komikus Indonesia. Penerbit Elex Media Komputindo, misalnya, mulai menerbitkan manga lokal sejak 2000 saat komikus lokal mulai mengirimkan naskah komiknya.

Editor komik Elex, Binarti Kusumaningtyas, menceritakan saat itu pihaknya melihat beberapa naskah kualitas sudha tergolong layak terbit karena gambarnya sudah mendekati manga Jepang. “Akhirnya kami pustuskan untuk menerbitkan komik lokal,” kata Binarti saat dihubungi Tempo Rabu lalu.

Awalnya komikus ini masih malu-malu dan memakai nama samaran yang kejepang-jepangan. Sebut saja Anzu Hizawa yang sudah menerbitkan lima komik yakni Magic of Love, His Other Personality, Dear Miss Lourin, Sea Foam, dan Pretty Perfect.

Kemampuan gambarnya yang mumpuni membuat lulusan Desain Komunikasi Visual Universitas Kristen Petra itu menjadi manga-ka Indonesia pertama yang diundang menjadi panelis Asia Joryu Manga No Sekai 2004 (Asia in Comics 2004: Comics by Asian Women).

Dalam simposium itu, seperti dikutip situs web Dunia Komik milik Ishizawa Takeshi, komikus Jepang Watase Yuu bercerita bahwa untuk mencapai standar sekarang, komikus Jepang memerlukan waktu 40 tahun, sedangkan komikus Korea Selatan 20 tahun. Tapi komikus Indonesia seperti Anzu bisa mengejarnya hanya dalam waktu 5 tahun. “Gambar manga dari komikus luar negeri sangat cerdas. Karena itu kami (komikus Jepang) tidak boleh kalah,” ucap Yuu.

Binarti juga menyebut Anzu sebagai salah satu mangaka lokal yang sukses. Namun sejak dua tahun terakhir ia berhenti mengirim karyanya ke Elex dan lebih banyak berkiprah di luar negeri.

Toh hilangnya Anzu tak terlalu terasa sebab komikus baru terus bermunculan. Binarti mengatakan, jumlah pengirim naskah terus bertambah setiap tahunnya sampai-sampai “Kami sampai kewalahan menyortirnya,” kata Binarti.

Mayoritas dari mereka adalah komikus perempuan perempuan. Karena itu tema cerita yang mereka suguhkan juga berisi kisah percintaan khas komik shoujo atau komik perempuan.

Memang ada yang mulai menulis kisah misteri, namun Binarti menyatakan jumlahnya masih sedikit. Energi komikus ini pun belum masih seadanya, terbukti masih sangat jarang yang menawarkan komik berseri panjang. “Maksimal cuma dua nomor saja,” kata Binarti.

Sejak pertama menerbitkan komik lokal delapan tahun yang lalu, paling tidak sudah ada 100 judul komik lokal yang diterbitkan Elex. Memang jumlahnya masih kalah jauh ketimbang komik terjemahan. Dalam sebulan Elex menerbitkan sekitar 50 judul komik dan dari jumlah itu paling hanya satu atau dua judul saja yang buatan komikus Indonesia.

Penjualan manga rasa lokal ini pun terseok-seok. Jika komik kondang seperti Naruto bisa terjual ribuan eksemplar di setiap nomornya, maka komik lokal paling hanya terjual di angka ratusan eksemplar. Meski penjualannya jeblok, Binarti menyatakan Elex menjaga komitmennya untuk memberi ruang bagi komikus lokal yang kini mulai berani memasang nama aslinya.

Binarti menjelaskan, problema komik lokal masih pada gambarnya yang cenderung meniru manga Jepang tanpa mengikuti teknik-tekniknya dengan benar. “Mereka merasa kalau sudah bisa mirip berarti sudah benar,” keluhnya.

Gambar memang menjadi prasyarat utama seleksi yang dijalankan Elex lantaran inilah yang langsung dilihat oleh pembeli. Binarti yang sudah bergabung dengan Elex sejak 1992 ini melihat penikmat komik sangat kritis dan Japan-minded sehingga sedikit saja ada mereka melihat keanehan pada gambar, jangan harap mereka tertarik membelinya.

Karena itulah setiap naskah yang masuk akan dipelototi gambarnya dalam hal kerapian, detail, anatomi karakter, gambar latar belakang, dan permainan dimensi. Selain itu akan diperhatikan pula alur cerita apakah membosankan atau sudah bisa mengalir dengan baik.

Salah satu dari mangaka Indonesia yang berhasil menembus syarat-syarat ketat itu adalah Fawzia Hanum yang memakai nama pena Paw. Elex menerbitkan komik kisah bernuansa romantis yang ia beri judul “How Come?!”.

Perempuan berusia 23 tahun ini memang sudah sejak lama ingin menerbitkan komik buatannya namun ia belum pede. Fawzia memutuskan belajar teknik mengambar manga di Machiko Manga School.

Fawzia menceritakan, ia belajar menggambar manga ternyata butuh teknik tinggi dan untuk membuat satu halaman saja bisa memakan waktu hingga sehari penuh. Menurutnya, mereka yang berniat menjadi mangaka profesional memang mau tak mau harus bekerja full time di bidang itu.

Karenanya ia bungah bukan main ketika tiga tahun lalu sinopsis dan 10 lembar contoh komik yang dibawanya ke kantor Elex langsung disetujui oleh editor. “Waktu itu saya benar-benar senang!”

Selain Fawzia ada juga Komikus Indonesia yang sudah menjadi langganan Elex seperti kakak-beradik Ida Ariyani dan Nunik T. Ida membuat “Trouble Idol” dan “True Your Heart” sementara Nunik membuat komik bersambung dua nomor “Kartika” dan tahun ini menerbitkan “Another Triple Knock”.

Vivian Wijaya juga menembus ketatnya seleksi Elex lewat komiknya, “Prambanana”. Pemilik nama pena Dr. Vee ini memparodikan berbagai legenda dan mitos tanah air. Tokoh utama perempuan yang digambarkan memakai busana ala wayang orang berkonflik dengan ratu laut selatan dengan cara yang kocak.

Sukses dengan komik tersebut, Vivian yang dokter ini banting setir menjadi komikus profesional. Ia melanjutkan belajar menggambar manga di Jepang dan Februari lalu karya ilutrasinya sudah mulai dimuat di majalah komik papan atas Jepang, Shonen Jump.

Kiprah Vivian ini bagian dari gelombang komikus muda Indonesia yang mulai menjajal dunia manga langsung ke negara asalnya. Meski tak banyak namun ada yang mulai mencuri perhatian seperti Mao Hasono yang merebut Juara II Kontes Yon Koma Manga “Y-1 Grandprix” di majalah Manga Life.

Melihat perkembangan tersebut ditambah menjamurnya kursus menggambar manga, Binarti optimistis komik Indonesia beraliran manga akan berkembang baik. Apalagi ia melihat para komikus yang konsisten dalam berkarya terus meningkat kualitas gambar da ceritanya. “Karya komikus baru memang biasa-biasa saja, tapi komikus lama semakin berkembang gambar dan ceritanya,” kata Binarti.

7 Responses to "MANGA RASA INDONESIA"

Yang penting dari sebuah manga tu cerita, cara membawakan dan gambar. Gambar gak begitu bagus bisa didukung ma cerita dan cara membawakan yang bagus. Meski gambar sebagus apapun kalo ceritanya jelek ya sama aja gak bisa dibaca.

Kalo orang Indonesia mo bikin komik coba fokus bukan untuk majuin komik Indonesia tapi untuk bikin komik yang bisa dibaca dan disukai ma konsumen. Yang paling penting, cover musti dibikin sempurna. People always judge book by it’s cover.

komik indonesia yah,,,,karena jepang dari jenjang sekolah ja udah di kembangin manganya,,,,jadi kalo aku boleh usul,,,,yang kayak aku nih,,,,bisa gambar,n punya cerita2 bagus tapi masih lum da pengalaman sama sekali di kasih beasiswa wat belajar buat manga dunk,,,,pleaseeeee,w pede banget kalo w dah belajar,,,w pasti bisa wat manga yang membanggakan wat indonesia manga….thnks

aku mau kok jadi asisten mangaka indonesia tanpa di gaji wat pembelajaran,,,,please give inform

Aku pengeeeeeeeeeeeeen bgt jadi komikus.Cerita dah jadi tapi males ngegambar

gimana yang domisili di makassar? apakah memungkinkan untuk mengajukan naskah ke penerbit besar? peralatan penunjang untuk finishing yg dilengkapi petunjuknya juga susah didapat di makassar. kalau ada info tentang itu, aku makasih banget deh! ^ ^

Seru juga kalo jadi komikus yg mengharumkan nama bangsa. Walaupun gw kumikus amatiran.

bisa ga ya jadi asisten manga…buat pembelajaran aku tiap hari gambar terus…….pengen bikin komik elppp………

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: