dunia buku (beta)

NAMANYA STANISLAUS

Posted on: December 28, 2008

Stanislaus sudah mengalami banyak peristiwa dalam hidupnya yang kini
menginjak 62 tahun. Namun Rabu sore lalu ia menjalani kegiatan yang
baru pertama kali dilakoninya seumur hidup, yakni sebuah wawancara
televisi soal novel yang belum lama diterbitkannya.

Ia baru kali ini menulis novel. Sebagai novelis ia memang masih
debutan namun kalau untuk sandiwara radio namanya sudah kondang. Nama Stanislaus memang kurang dikenal orang lantaran ia lebih sering
menyingkat nama depannya yang membuatnya lebih beken dengan nama S.Tidjab. Tidjab mulai populer saat sandiwara buatannya, Tutur Tinular, disiarkan di radio.

Tidjab memulai karirnya sebagai pemain teater bersama kelompok Teater Kecil yang digagas Arifin C. Noer. Setelah itu ia bergabung dengan Sanggar Pratiwi dan mulai menjadi pemain drama radio.

Perlahan-lahan ia belajar menulis skenario sandiwara radio dan mulai
diberi kesempatan membuat drama anak-anak. Kemudian ia mulai
mengadaptasi novel-novel cerita silat seperti karya-karya S.H.
Mintardja menjadi sandiwara radio.

Bosan menggarap karya orang lain, Tidjab memutuskan membuat ceritanya sendiri. Pada 1989 ia menulis sandiwara Tutur Tinular dan namanya mulai banyak dikenal publik setelah karyanya ini disiarkan di radio.

Setelah itu daya kretifnya seperti tak terbendung dan semakin banyak
membuat banyak sandiwara diantaranya yang cukup kondang adalah Mahkota Mayangkara dan Kaca Benggala. Kekhasan karya Tidjab adalah karakter fiksi yang diselipkan secara apik dalam kisah-kisah kerajaan di tanah Jawa dengan bumbu-bumbu roman yang kental.

Karena gaya menulis yang seperti itu, Tidjab tak cukup berimajinasi dan karena cerita sejarah harus ditulis dengan akurat. Ia mencontohkan di televisi pasar zaman kuno digambarkan seperti masa kini dimana pedagang menggelar lapak-lapak berjualan padahal pada masa itu pasar biasanya di sebuah pohon besar di tengah sawah dimana orang banyak berteduh dan lama-kelamaan saling jual beli barang. “Saya harus banyak baca buku sejarah,” ujarnya.

Tidjab memang mengoleksi banyak buku mulai dari kumpulan kisah-kisah
kerajaan Jawa hingga buku tentang perilaku dan baju masyarakat zaman kuno. Buku-buku referensinya beragam, mulai dari terbitan terkini hingga buku berbahasa Jawa terbitan 1945.

Uniknya, Tidjab tak pernah mengetik sendiri skenario dramanya. Ia
membuat dramanya secara lisan mulai dari dialog hingga efek suaranya
dan merekam seluruhnya. Lantas ia meminta orang lain mengetik semua
rekaman dan hasilnya baru ia sunting. “Saya akan pilih lagi dan bagian
yang kurang dramatis saya buang,” ujarnya.

Namun nama Tidjab meredup seiring lesunya sandiwara radio yang
tergeser oleh film dan sinetron di televisi. Pada masa-masa itu Tidjab
banting stir mengerjakan proyek kehumasan seperti membuat company
profile dan ikut menggarap film dokumenter.

Baru pada 2006 kesempatan membuat sandiwara datang lagi dari jaringan radio 68H Utan Kayu. “Rasanya saya benar-benar segar kembali,” ujarnya sembari tertawa.

Ia lalu membuat Pelangi Di Atas Gelagah Wangi, sebuah sandiwara tiga
episode yang tiap episodenya terdiri dari 30 seri. Sayang sponsor tak
melanjutkan dukungan pembuatan sandiwara padahal setahu Tidjab banyak penggemar yang berharap ada kelanjutan terutama pendengar di Yogyakarta.

Karena itulah Tidjab menyambut baik tawaran penerbit Mizan untuk
mengadaptasi karyanya ini menjadi novel. Sejak dulu memang banyak yang meminta agar sandiwaranya akan dibukukan namun Tidjab kelewat sibuk untuk membuatnya.

Tutur Tinular sempat dibuat novel oleh seorang kenalannya tapi tak
terlalu laris lantaran bukunya tipis tapi harganya mahal. “Zamannya
berubah sekarang ini orang merasa kurang keren kalau baca bukun
tipis,” ujarnya.

Maka kali ini Tidjab memutuskan membuat sendiri novelnya. “Saya lihat
dulu tanggapan orang-orang,” kata dia. “Kalau laku ya saya berhenti
buat sandiwara dan nulis novel saja.”

1 Response to "NAMANYA STANISLAUS"

oh, namanya Stanislaus ya? baru tahu. dulu mendengarkan sandiwara radio memang mengasyikkan. baru tahu kalau Tidjab membuat skripnya seperti itu. aku belum baca buku Di Atas Gelagah Wangi. tapi kata suamiku, isinya kecampur2 sama agama gitu. kurang asyik… (trus jadi agak malas membacanya deh)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: