dunia buku (beta)

PETER ZILAHY DAN KEBEBASAN SEJATI

Posted on: December 28, 2008

foto daimbil dari situs pribadi peter zilahy, www.zilahy.net

Peter Zilahy, penulis asal Zilah, Transylvania, ini gemar berkeliaran di tengah malam, mulai bekerja saat matahari terbenam dan tidur saat mentari terbit. Ia bicara soal hidup penuh kebebasan dan mitos vampir Eropa Tengah.

Pementasan karya teater di mulai dari panggung Broadway New York sampai gedung-gedung teater di Jakarta terus dan semakin bergairah. Namun kenyataan yang sama tak terjadi di toko buku dimana buku naskah drama dan teater tepencil dan terjepit di antara deretan panjang literature fiksi dan nonfiksi.

Ketika penulis di seantero dunia lebih tertarik menggali bentuk prosa, maka Peter Zilahy (semua huruf “e” dibunyikan seperti dalam kata “pena” sementara nama keluarga Zilahy dilafalkan “zilakh-i”) justru mengeksplorasi karya sastra jenis drama. Belum lama ini Peter yang berasal dari Hungaria menerbitkan karya dramanya Der lange Weg nach nebenan (terjemahan bebasnya kira-kira Perjalan Panjang Meniti Masa Depan).

Ini menjadi pelengkap repertoar karya teaternya setelah ia mengadaptasi novelnya, Posledna Zirafa B Okne menjadi sebuah buku skenario teater. Novel yang memenangi penghargaan The Book of the Year 2003 di Ukraina tersebut diterbitkan versi Indonesianya oleh penerbit Bentang dengan judul The Last Window-Giraffe: Hari-hari Terakhir Sang Diktator.

Peter memang menikmati tantangan merangkai dialog untuk teater yang jauh lebih rumit ketimbang menulis novel. Cerita harus dibangun lewat dialog dan kata-kata sementara narasi dan deskripsi yang jadi jurus andalan pada novel sama sekali tak bisa dipakai.

“Deksripsi panjang akan bikin penonton tertidur,” kata Peter yang ditemui Tempo beberapa waktu lalu di Hotel Alila Kemang. “Konflik harus disampaikan lewat dialog yang mesti bisa dirasakan penonton.”

Peter menyebut dirinya sebagai orang yang menyukai tantangan. Baginya kerumitan dalam menyusun karya teater itu merupakan tantangan yang ia butuhkan untuk terus mengembangkan dirinya.

Dorongan menggarap ranah teater ini datang dari bacaannya semasa remaja. Pada usia 15 tahun Peter sudah membaca seluruh karya Shakespeare.

Meski meluncurkan beberapa karya teater yang sudah dipentaskan di berbagai negara, tapi Peter sendiri secara internasional tak hanya dikenal sebagai penulis naskah teater. Ia membuat film dan juga mendunia sebagai penulis puisi.

Pada usia 18 tahun, tepatnya saat berada di tahun terakhir sekolah menengah atas, Peter mulai menulis puisinya. Ia mengenang, ketika itu ia tak pernah memperhatikan pelajaran. Ia duduk di barisan paling belakang sembari menyusun baris demi baris puisi yang kemudian diterbitkan di sebuah majalah Hungaria.

Tiba-tiba saja kehidupan Peter berubah dan ia diknela sebagai penyair muda berbakat. “Saya menikmatinya sampai akhirnya saya muak dengan lingkaran penulis dan penikmat literatur Hungaria dan benar-benar berhenti menulis,”

Setelah sepuluh tahun vakum, Peter kembali menulis tapi kali ini lebih banyak dalam bentuk prosa hingga pada 2004 terbit novel The Last Window-Giraffe. Peter juga rajin menulis esei yang membuat masyakarat Jerman mengenalnya sebagai kolumnis suratkabar.

Tidak cuma itu, Peter juga melukis dan mendalami seni fotografi dengan hasil karya yang sudah beberapa kali dipamerkan. Bahkan lewat dua jenis keterampilan ini membuat Peter tak memerlukan fotografer dan illustrator untuk merampungkan novelnya seolah ingin menunjukkan dirinya sebagai sosok penulis sejati yang tumbuh di era multimedia.

Namun pria berambut ikal ini menjelaskan bahwa media yang dipakai memang beragam karena ia ingin menyesuaikan dengan ide yang muncul di benaknya. “Kalau saya mendapatkan ide maka saya memikirkan bentuk yang terbaik untuk mewadahi ide itu kadang itu bisa film, kadang bisa foto, kadang itu jadi novel.”

Peter percaya setiap manusia memiliki banyak identitas seperti dirinya yang penulis, penyair, fotografer, sekaligus sutradara namun kemudian memaksakan diri hanya menjadi satu sosok saja. Baginya sangat bodoh jika orang dengan banyak identitas seperti itu kemudian membatasi diri dengan memilih salah satunya saja.

“Memilih salah satu identitas sam saja menurunkan hakikat diri kita dan saya tak mau itu,” ujarnya. “Saya ingin jadi lebih, lebih dan lebih, bukan kurang, kurang dan berkurang.”

Peter memang paling tak suka dengan bentuk-bentuk pengkategorian. Jadi saat masyarakat dan media massa mulai mengkategorikan dirinya sebagai novelis atau penyair maka ia akan berubah menjadi sosok yang baru dengan karya yang berbeda pula. “Intinya, saya ini tak terkategorikan,” kata dia.

Rasa ingin sepenuhnya bebas ini bertumbuh dalam diri Peter yang sejak kecil terkungkung dalam rezim totaliter diktator komunis. Memang Hungaria terkenal dengan “komunisme gulai daging” yang mencampurkan sistem komunis yang kaku dengan sedikit sistem liberalis dimana negara ini punya banyak bisnis swasta dan kebebasan berbicara yang lebih besar.

Di masa inipun Peter sudah menunjukkan dirinya yang tak mau dikotak-kotakkan. Saat rekan-rekan sebayanya menolak belajar bahasa Rusia yang dianggap penjajah, Peter justru menekuninya dan menjadi fasih bahasa negeri beruang merah tersebut. “Saya punya problem dengan tentaranya tapi kan saya tak ada masalah dengan bahasanya,” katanya mantap.

Namun ia tetap merasa tak puas dengan rezim totalitarian yang tetap mengatur hal yang boleh dan tak boleh dilakukan. Baginya kediktatoran sangat buruk bagi orang-orang yang orisinil dan punya ide sendiri karena rezim komunis gemar menyeragamkan dan tak menyukai orang dengan opini yang berbeda.

Sejak kecil Peter memang selalu punya cara pandang yang berbeda dari orang-orang di sekelilingnya dan tak ragu menyampaikan pemikirannya itu. Sifat ini belakangan membuatnya dikeluarkan dari sekolah dan teman-teman sekelasnya mengolok-olok bahwa nanti Peter akan jadi pengemis dan mereka akan melemparkan koin ke tangannya.

Peter yang dianggap sinting oleh temannya namun ia dengan tegas menyatakan dirinya tak gila tapi cuma keras kepala, sedikit sombong dan tak mau kompromi menyangkut hal-hal yang dipercayanya sebagai kebenaran. Toh ia tak peduli dan bukannya jadi pengemis Peter malah menjadi orang terkenal dan bisa berleha-leha di hotel mewah di berbagai belahan dunia.

Segala kritik kepada kediktatoran yang membatasi pilihan terhadap penentuan hidup secara mandiri inilah yang kemudian dituangkan ke dalam novel The Last Window Giraffe. Buku ini sengaja memplesetkan buku dengan judul yang sama yang dipakai anak-anak Hungaria belajar membaca yang penuh dengan propaganda blok timur seperti penekanan bahwa matahari terbit di timur dan jantung ada di dada sebelah kiri.

Menurut Peter, buku tersebut perlambang sifat kediktatoran yang selalu memperlakukan semua orang seperti anak kecil. Sebagai kebalikannya, Peter sengaja tak mau mengarahkan atau mengajarkan apapun serta membiarkan orang menemukan sendiri makna dalam karyanya.

Baginya khalayak itu cerdas maka penulis seharusnya tak seperti televisi yang menganggap pemirsanya bodoh sehingga harus membuat penjelasan yang penuh penyederhaan. Buktinya, kata Peter, pembaca di Ukraina menjadikan novel Peter sebagai panduan menggelar Revolusi Oranye menentang rezim totaliter dan pembaca di Indonesia bisa menemukan kesamaan peristiwa protes menentang Slobodan Milosevic di Yugoslavia dengan perlawanan terhadap rezim Soeharto pada Reformasi Mei ’98.

Bisa dibilang Peter memang puas dengan novel yang dikerjakannya selama tiga tahun tanpa henti hingga dini hari. Peter bercerita ia memang hanya bisa konsentrasi secara penuh di tengah malam.

Pria yang masih berdarah bangsawan dari Zilah, sebuah kota di wilayah Transylvania, ini memulai kerjanya saat matahari mulai terbenam dan tidur bersamaan dengan matahri terbit di ufuk timur. Lelaki bermata abu-abu ini juga mengaku di tengah malam suka membuang kepenatan dari menulis dengan berjalan-jalan menyusuri lorong-lorong kota yang sepi di malam hari. Dengan kebiasaannya itu, tak takutkah ia dikira drakula yang ditulis novelis Bram Stokers berasal dari Transylvania?

“Nah di situlah orang yang sering salah karena Hungaria sama sekali tak mengenal mitos makhluk penghisap darah,” ujarnya. Peter menjelaskan, folklor vampir justru hanya ada di Rumania dan Serbia karena sosok yang belakangan dikenal sebagai drakula memang bukan berasdal dari Transylvania tapi di sisi lain pegunungan Carpathians yang berada di wilayah Rumania.

Peter sendiri sebenarnya sedih karena stigma terhadap Transylvania, padahal kampong halamannya itu kaya dengan banyak literature sebagai salah satu kota teruta di Eropa. Masalahnya Hungaria seperti banyak negara Eropa tengah lainnya memang tak punya modal besar untuk mengenalkan literaturnya kepada dunia.

Beruntung penerbit di Jerman mulai melirik karya para penulis muda Hungaria yang memang karena perbedaan bahasa punya gaya bertutur yang berbeda dengan penulis negara Eropa lainnya. Novel karya Peter sendiri semakin membuka jalan kebebasan dari stigma itu karena sudah diterjemahkan ke lebih dari 20 bahasa. Ia berharap lewat novelnya orang akan menemukan lebih banyak harta yang terpendam dalam literatur negara-negara Eropa Tengah.

Saat ini Peter tengah menyiapkan novel terbaru yang rencananya akan diterbitkan pada 2009. Untuk novelnya yang satu ini dan semua karyanya ke depan, Peter akan tetap mempertahankan rasa keingintahuan sebagai pemandunyayang terkadang membawanya ke tempat membahayakan seperti di tempat meleutusnya revolusi di Yugoslavia saat menulis The Last Window Giraffe. “Terbunuh dan mati adalah bagian dari hidup. Bertumbuh dewasa berarti menerima kenyataan bahwa suatu saat anda akan mati,” ujarnya bijak.

1 Response to "PETER ZILAHY DAN KEBEBASAN SEJATI"

tertarik banget tuh dengan bukunya..memberikan inspirasi kebebasan tanpa batas..tanpa ada pemaksaan kehendak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: