dunia buku (beta)

GELIAT KISAH PARA PSIKOPAT

Posted on: February 23, 2009

Secepat kilat jarum suntik menembus tengkuk perempuan. Wajah dengan riasan tebal itu pun kuyu dilumpuhkan narkotika yang mulai mengalir dalam pembuluh darahnya.

Usai menyetubuhi tubuh pekerja seks komersial yang terkulai lemas itu, si penyuntik mengeluarkan pisau bedah dan mulai membelah dada korbannya. Seekor merpati hidup dimasukkan dalam rongga dada perempuan itu dan ia menjahitnya kembali membiarkan mahkluk malang itu mati kehabisan udara. Pisau bedah kembali beraksi memutilasi tubuh perempuan itu.

Pemandangan semacam ini akan membuat sebagian orang begidik ngeri. Tapi Rere justru menikmati gambaran mendetil pembunuhan sadis dalam novel Birdman yang mengisahkan psikopat yang membenci pelacur lantaran saat kecil ahli bedah ini mengalami pelecehan seksual dari ibunya.

Perempuan berusia 25 tahun ini mengaku tak takut membaca cerita soal pembunuhan berantai yang kadang menyajikan cara-cara mereka menghabisi nyawa korbannya dengan mengerikan. Rere yang sejak kecil gemar membaca novel detektif ini justru menganggapnya lebih menantang.

“Saya suka cerita yang memicu adrenalin,” ujarnya. “Enggak tahu kenapa, kalau sudah baca cerita itu rasa penat kerja seharian jadi hilang.”

Orang-orang di sekitar termasuk suaminya kadang takut ia terpengaruh dan mengikuti jejak para psikopat dalam novel itu. Tapi bagi Rere membaca novel thriller justru membuatnya semakin mawas diri. “Saya malah tambah waspada menilai orang karena tokoh penjahatnya justru orang-orang yang sehari-hari kelihatan baik dan ramah,” ujarnya.

Kecintaan karyawan swasta ini terhadap novel thriller memang tak terbendung dan saban ada judul baru ia langsung membacanya hingga habis. Nah kalau dulu ia kesulitan mencari novel soal psikopat pembunuh maka sekarang ia dengan mudah menemukannya lantaran novel bergenre criminal thriller memang tengah membanjiri pasar. Saking banyaknya, berbagai toko buku harus menyediakan rak khusus bagi buku-buku ini.

Motor aliran ini Dastan Books, salah satu lini penerbitan dari Grup Zahra. Perusahaan penerbitan ini awalnya memproduksi buku-buku Islami namun kemudian membanting stir masuk ke buku thriller dan sudah melepas 60 judul buku jenis ini ke pasar.

Chief Editor Dastan, Prayudi, menceritakan setelah setahun berkecimpung di dunia literatur islami sejak 2004 mereka merasa pasarnya kelewat kelewat akibat terlalu banyak pemain. Sementara itu menembus fiksi umum pun tak bisa sembarangan. “Kalau kami berhadapan langsung denagn penerbit tanpa positioning yang jelas pasti kami kalah,” ujar pria yang akrab disapa Yudi ini.

Lini Dastan pun disiapkan dan riset sederhana dijalankan demi mencari ceruk pasar yang tak dilirik penerbit lain. Akhirnya mereka menemukan buku thriller khususnya di genre thriller kriminal dan horor.

Agar cepat menangkap perhatian pembaca Dastan memilih kisah thriller yang berisi pembunuhan-pembunuhan yang tak biasa. “Kami cari pembunuhan yang enggak sekedar ditusuk atau ditembak tapi yang caranya aneh,” kata Yudi.

Saat berburu novel dengan kriteria tersebut Yudi menemukan sebuah novel Perfume: The Story of a Murderer. Cerita pembunuh berantai yang diterbitkan Patrick Suskind pada 1985 ini memiliki kesuksesan penjualan secara internasional hingga 15 juta eksemplar tapi anehnya tak dilirik penerbit lokal. Dastan pun mendapatkan hak cipta dengan harga murah yakni sekitar US$ 500.

Cerita buatan novelis Jerman itu memang sejalan dengan kriteria Dastan. Tokoh sentral novel ini, Jean-Baptiste Grenouille, lahir tanpa bau tubuh dan tak diinginkan banyak orang di sekelilingnya.

Ia menjalani hidup jauh dari perhatian orang dan dalam kesendiriannya menemukan sebuah bakat yang tak terduga. Grenouille memiliki penciuman lebih tajam dari orang biasa bahkan dengan membaui ia bisa menebak benda-benda yang berada jauh di balik tembok rumah.

Suatu hari ia hidungnya menangkap aroma yang benar-benar manis, bauran wangi sutera dan susu yang hanya bisa dimengerti olehnya. Ternyata keharuman itu berasal dari tubuh perawan.

Sejak itu pula ia terobsesi menciptakan parfum terwangi yang membuat siapapun yang menciumnya bertekuk lutut tanpa mengerti alasannya. Parfum yang bahannya dirampas dari tubuh gadis perawan lewat serangkaian percobaan yang meninggalkan mayat-mayat gadis tercantik di kota dalam keadaan polos tanpa rambut dan sehelai busana.

Suskind memang piawai dalam mengembangkan plot. Ia tak tergesa-gesa dan memilih mengurai tahapan kehidupan Grenouille hingga ia menjadi pembunuh yang tak terlacak serta memberikan kejutan di ujung ceritanya.

Tak disangka oleh Yudi, novel ini sukses. Sampai Desember lalu Perfume masuk cetakan ke-14 dan sudah terjual sekitar 160 ribu eksemplar.

Penulsi lain yang karyanya juga digemari pembaca di Indonesia adalah Chris Mooney. Tulisan fiksi novelis ini yang sudah mencapai cetakan ketiga adalah The Missing.

Cara bercerita Mooney memang terbilang langka dalam novel thriller. Mirip dengan Suskind ia tak menawarkan sudut pandang detektif pemburu penjahat saja tapi juga menampilkan sudut pandang pelaku penculikan dan pembunuhan serta kepiawaian mereka mencari korban dan mengelabui pengejarnya.

Sukses ini membuat posisi tawar Dastan menjadi kuat di mata para agen dan penulis thriller di mancanegara sehingga hak cipta diperoleh dengan mudah dan murah. Yudi mengaku sampai saat ini ia tak pernah kesulitan mendapatkan naskah thriller. Dastan nyaris tak punya saingan di ceruk ini.

Yudi pun tanpa ragu memborong beberapa judul sekaligus dari penulis yang masuk daftar penulis bestseller versi harian New York Times. Mayoritas cerita dalam novel-novel tersebut punya plot sama yakni penelusuran seorang detektif membongkar kasus pembunuhan berantai.

Namun dari deretan judul yang menampilkan sosok detektif ini muncul novel Jeff Lindsay yang nyeleneh berjudul Dexter. Novel ini menggabungkan dua plot dalam satu buku lantaran tokoh utamanya, detektif Dexter Morgan, menjadi pemburu psikopat sekaligus ia sendiri adalah pembunuh berantai.

Dexter yang karismatik ini memiliki alter ego bernama Dark Passenger yang membunuhi orang-orang yang dianggap layak mati. Saat Dexter berupaya menekan alter ego itulah muncul dokter Danco, psikopat yang gemar memreteli bagian tubuh korbannya dalam keadaan hidup.

Rata-rata buku tersebut kini terjual sekitar 4.000 eksemplar atau satu kali naik cetak dan diakui Yudi hana beberapa saja yang dicetak ulang. “Kami sadar ini melayani ceruk yang terbatas jadi stategi kami lebih ke kuantitas judul,” ujar Yudi. “Pembaca novel jenis ini memang sedikit tapi begitu selesai cerita yang satu mereka memburu cerita lain yang baru.”

Karena isinya yang mengeskploitasi sadisme kritik keruan saja mengalir ke Dastan akibat kekhawatiran novel ini menginspirasi orang untuk menirunya. Namun Yudi yakin hal itu tak akan terjadi sebab baginya orang yang meluangkan waktu membaca novel tebal hanyalah mereka yang sudah matang secara psikologis dan melihat kisah fiksi sebatas cerita saja. “Saya tidak akan sok idealis atau munafik, jujur saja ini memang murni bisnis,” tegasnya.

Setidaknya itulah sikap yang ia tangkap dari anggota milis Dastan yang hampir 70 persen anggotanya perempuan berusia 16-35 tahun . Dari wadah komunikasi penggemar buku Dastan ini jugalah Yudi memperoleh masukan soal gambar sampul, isi, dan judul novel yang diinginkan pembacanya.

Lewat obrolan dengan anggota milisnya inilah Yudi menemukan formula yang ampuh mencari buku yang disukai pembaca. “Rupanya pembaca Indonesia itu gemar membaca kisah pembunuhan berantai tapi suka yang kelewat ekstrim dan sadis,” ujar Yudi.

Maka Dastan pun mulai menerbitkan cerita romantic suspense. Tetap ada psikopat dengan cara membunuh yang di luar akal sehat namun kisahnya dibalut dengan percintaan antara korban dengan penyelamatnya yang biasanya seorang detektif.

Penulis bestseller seperti Lisa Jackson dan Karen Rose yang gemar menulis kisah yang membuat jantung berdegup karena ketakutan sekaligus mabuk romansa menjadi sasaran Dastan. Namun penulis romantic suspense yang menurut Yudi menjadi tambang emas Dastan adalah Beverly Barton yang di Indonesia sudah ada basis penggemar setia yang menyukai karyanya di novel-novel Harlequin.

Namun dominasi Dastan ini pelan-pelan mulai disaingi oleh penerbit-penerbit besar. Penerbit Gramedia Pustaka Utama (GPU) juga mulai menganggap ceruk thriller ini pasar yang menggiurkan. Penerbit ini sebelumnya sudah menerjemahkan thriller politik dan hukum seperti karya-karya John Grisham dan Michael Crichton kini mulai menjajal cerita kriminal.

Menurut Editor GPU, Hetih Rusli, novel thriller kriminal yang mulai dikenalkan dalam setahun terakhir ini merupakan upaya menggarap pasar pembaca novel thriller tadi. “Kami ingin memberikan variasi bacaan pada pembaca novel nonromance,” ujarnya.

Pada Februari tahun lalu GPU merilis Anatomy of Fear yang ditulis Jonathan Santlofer. Garis besar alur novel ini sama dengan karya sejenis yang menampilkan anggota tim forensik, Nate Rodriguez, yang memburu pembunuh berantai di kota New York.

Yang istimewa, Santlofer menghadirkan elemen grafis dalam novelnya. Goresan-goresan pensil dari tokoh utamanya yang seniman gambar tim forensik bertebaran di dalam novel yang setiap halaman pembuka bab terdapat percikan darah ini. Sketsa-sketsa itu juga sebenarnya menjadi kebutuhan lantaran pembunuh berantai yang diburu Nate memang meletakkan gambar pada korban-korbannya.

Penerbit Mizan Pustaka juga ikut meramaikan genre ini dengan menerbitkan seri novel Liebermann Papers karya Frank Tallis. Serial novel berlatar awal abad ke-19 ini mengisahkan sepak terjang Dr Max Liebermann, seorang psikolog dan murid dari bapak psikoanalisis Sigmund Freud.

Liebermann diminta bantuan oleh sahabatnya, Inspektur Detektif Oskar Rheinhardt, membantu memecahkan kasus pembunuhan berantai yang pelik karena pelakunya tak punya pola yang tetap dan nyaris tak terlacak jejaknya. Selain menelusuri kasus pembunuhan, Liebermann juga diceritakan mesti memecahkan persoalan cintanya.

Berbeda dengan novel thriller yang mengurai kasusnya dengan penyelidikan gaya polisi dan forensik, novelis peraih Writers’ Award dari Arts Council of Great Britain ini memakai interpretasi psikoanalisis. Tak heran jika Tallis memilih pendekatan tersebut karena ia sendiri seorang psikolog klinis yang mengajar di Institute of Psychiatry and King’s College, London, Inggris. Sebelumnya Tallis bahkan sempat menulis buku nonfiksi bertema psikologi.

Menurut Chief Executive Officer Mizan Pustaka, Pangestuningsih, menjelaskan pihaknya memilih karya Tallis ini lantaran keunikan penguraian kasus dengan pendekatan psikologi. “Buku di lini Qanita memang menekankan aspek psikologis dari cerita,” ujarnya.

Sejauh ini Mizan sudah menerbitkan dua buku dari seri ini lewat lini Qanita. Buku pertama, Mortal Mischief, diterbitkan lewat lini penerbitan Qanita dengan judul A Death in Vienna disusul dengan buku keduanya, Vienna Blood.

Kedua judul seri Liebermann Papers yang sudah diterbitkan memang tak terlalu kinclong penjualannya. Namun Pangestuningsih mendapat permintaan dari para penggemar buku ini agar menerbitkan kelanjutannya. “Mereka penasaran dengan kelanjutan kisah hidup Liebermann.”

Karena itu Mizan tengah menyiapkan buku ketiga dalam seri ini yakni Fatal Lies. Tallis sendiri sudah menulis hingga buku keempat yang ia beri judul Darkness Rising.

Penerbitan buku ketiga tersebut rencananya akan diiringi dengan rilis ulang dua buku sebelumnya. Pangestuningsih optimistis kali ini akan lebih laris lantaran kini pasar sepertinya sudah lebih siap melahap novel thriller.

BACA JUGA: Pria di Balik Sampul Novel Thriller

3 Responses to "GELIAT KISAH PARA PSIKOPAT"

wahh ceritanya membuat bulu kuduk saya berdiri..

seeeereeeemmm boooo….

waaaaa crt yg mnrik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: