dunia buku (beta)

GELIAT TOKO BUKU ONLINE

Posted on: March 16, 2009

Angelina Anthony, 27 tahun, menyukai novel fiksi fantasi sementara teman sekantornya Aulia Halimatussadiah, 25 tahun, gemar membaca buku nonfiksi. Hobi itu membuat kedua karyawan perusahaan teknologi informasi itu membuat mereka sering berdiskusi soal buku.

Lantaran sama-sama bekerja mengulik komputer dan internet, keduanya sering mengobrol soal asyiknya bekerja di toko buku online Amazon.com. Akhirnya mereka mengawinkan pekerjaan dan hobi pada Februari 2006 dengan membuka toko buku online yang dinamai Kutukutubuku. “Kutunya dua karena ada dua orang pecinta buku di belakangnya,” kata Aulia.

Mereka merogoh kocek sekitar Rp 10 juta sebagai modal awal. Pengembangan situs dikerjakan Aulia yang sarjana teknik informasi Universitas Gunadarma sementara desainnya diserahkan pada Angel yang memegang gelar sarjana multimedia dari Universitas Victoria, Melbourne, Australia.

Dalam waktu enam bulan saja, penjualan terus meningkat sehingga mereka mengontrak sebuah rumah dan menggaji satu orang karyawan untuk mengurusi toko. Keuntungan toko ini terus meningkat dan akhirnya pada awal 2007 keduanya berhenti dari kantor agar bisa mengurusi bisnis ini.

Kini Kutukutubuku.com menjual buku hingga 100 eksemplar per hari dan buku laris bisa mereka jual 500 kopi dalam sebulan. Dari rumah kontrakan kecil, kantor dengan 10 karyawan ini hijrah ke gedung ILP di bilangan Perdatam, Jakarta Selatan.

Duo Angel dan Aulia hanyalah satu dari sekian banyak pebisnis yang menggarap usaha toko buku online. Jika memasukkan kata kunci “toko buku online” di mesin pencari internet maka akan keluar lebih dari 20 situs toko buku online.

Toko online ini memasang strategi harga diskon sepanjang tahun untuk menyaingi toko buku konvensional. Misalnya saja novel terbaru Christopher Paolini, Brisingr, yang kini tengah dicari pembeli ditawarkan seharga Rp 84.150 padahal di toko buku dijual Rp 99.000. “Bisa dibilang kelebihan kami adalah menjual dengan harga pameran sepanjang tahun,” kata Aulia.

Aulia mengatakan, bisnis toko buku online ini mulai stabil pada 2007 dan mencapai pertumbuhan konsumen yang pesat sepanjang tahun lalu. Menurutnya, itu semua berkat semakin banyaknya jasa penyedia layanan internet dengan harga yang kian murah.

Kutukutubuku kini memiliki 20 ribu member yang rutin membeli buku. Demi menjaga kesetiaan para anggotanya, toko buku ini rajin menggelar kopi darat. Terakhir kali anggota diajak nonton bareng Kambing Jantan The Movie bersama pemeran sekaligus penulis buku aslinya, Raditya Dika.

Kutukutubuku pun mulai melebarkan sayap dengan menjual CD, DVD, tiket seminar, dan mainan edukasi. “Kami berusaha bergerak menjadi toko online yang jualannya tak jauh beda dengan toko konvensional,” ujar Aulia.

Jika toko buku lain menawarkan diskon besar maka Aulia dan Angel lebih fokus pada pelayanan. Jika buku yang dicari tak ada di penerbit mereka menawarkan pencarian ke toko buku bahkan memburu hingga ke agen atau penjualan buku bekas. “Kami tak mau perang harga itu sukses cara instan yang nantinya malah mengganggu layanan ke konsumen,” kata Angel.

Satu problem layanan dianggap Angel masih lemah adalah waktu pengiriman di atas dua hari. Waktu pengiriman jadi lama itu karena butuh waktu mendapatkan buku dari penerbit apalagi tak semua penerbit mengelola stoknya denganm sistem yang terkomputerisasi.

Sementara itu Bukukita.com mulai membuka tokonya di dunia maya pada Juni 2006. Direktur Bukukita, Setiawan, menceritakan bisnisnya ini bermula dari menjual buku-buku panduan mengulik program komputer yang ditulis seorang temannya.

Setiawan yang bekerja di perusahaan teknologi informasi ini membuatkan situs untuk menjual buku tersebut. Karena sambutannya lumayan baik, sarjana teknik elektro Institut Teknik Bandung ini memutuskan menseriusi dengan membuka sebuah toko buku online.

Menurutnya, buku adalah produk yang paling mudah dijual di internet. “Orang cukup melihat sampul dan resensinya sudah mau beli,” ujarnya. “Tak seperti makanan atau baju yang perlu dicoba terlebih dulu.”

Bukukita.com menawarkan buku lokal dengan harga didiskon 15-30 persen sementara buku impor diberi diskon 10 persen. Beberapa buku khusus bahkan diberikan potongan harga hingga 70 persen.

Buku dapat dibayar saat buku diterima ataupun dengan transfer rekening bank dan rencananya akan ditambah dengan pembayaran via pesan pendek. Khusus pengiriman buku di wilayah Jakarta yang biasanya emmakan waktu 2-3 hari, Setiawan hanya memasang biaya pengiriman Rp 5.000 yang paling murah ketimbang tarif pengiriman toko buku online lainnya.

Ia mengakui biaya pengiriman itu sengaja ia murahkan demi menarik pembeli. Meski harus mensubsidi biaya pengiriman itu, Setiawan mengaku perusahaannya masih mendapat untung dari penjualan buku.

Setiawan sadar betul konsumen di Indonesia masih takut berbelanja di internet karena itu ia membuat kolom testimonial dari para pelanggan. Ia juga memajang alamat dan nomor telpon kantor yang setiap saat bisa dihubungi agar pembeli benar-benar yakin mereka tak sedang ditipu.

Setiawan juga mempromosikan toko bukunya ke milis dan sesekali menyebarkan pamflet. Usaha itu membuahkan hasil yang memuaskan karena perlahan-lahan jumlah pembelian buku terus meningkat. “Tren penjualannya dari tahun ke tahun terus naik,” ujarnya sumringah.

Kini ada 35 ribu member yang secara rutin membeli buku di toko online milik Setiawan. Bukukita memanjakan para anggota ini dengan memberikan poin untuk setiap pembelian yang akumulasinya bisa dipakai menambah potongan harga buku atau untuk ikut undian berhadiah buku yang judulnya bisa dipilih sendiri.

Jika awalnya tak banyak perusahaan penerbitan yang tertarik bekerja sama maka kini Bukukita sudah menjalin rekanan dengan 200 penerbit. Bahkan banyak penerbit baru dan penulis yang menerbitkan sendiri bukunya yang menitipkan buku pada Setiawan

Toko online ini juga sudah berani menempatkan stok buku bestseller di gudangnya. Menurut Setiawan, buku yang laris bisa terjual hingga 500 eksemplar per bulan sehingga ia perlu menyiapkan stok agar buku bisa cepat ia kirimkan.

Seiring pertumbuhan usahanya, Setiawan meindahkan kantornya dari bangunan kecil di Tanjung Duren, Jakarta Barat, Setiawan memindahkan kantornya ke ruko tiga lantai di perumahan Permata Puri Media, Jakarta Barat. Sebanyak 11 karyawan bekerja di kantor ini.

Pelanggan toko buku online ini tersebar di seluruh Indonesia. Bukukita beberapa kali melayani pembelian dari Aceh, Kalimantan, dan Papua yang biaya pengirimannya tak murah.

Namun mayoritas pembeli biasanya berasal dari seputar Jakarta berusia antara 18 hingga 30 tahun. Angel mencatat pemesanan buku paling banyak datang dari karyawan di wilayah perkantoran Jakarta Selatan yang biasanya membeli lebih dari satu buku. “Mereka bilang sama saya kalau mereka kelewat sibuk untuk pergi ke toko buku jadi beli online,” ujarnya.

Salah satunya adalah Elizabeth yang telah beberapa kali berbelanja lewat inibuku.com. Ia mengetahui toko buku online itu dari adiknya dan setelah menelusuri sendiri situsnya karyawan swasta ini tertarik membeli buku di sana terutama karena harganya didiskon.

Saban berbelanja Elizabeth biasanya membeli lebih dari satu buku untuk keperluan kantor dan pribadi. “Selain harganya murah juga lebih praktis karena enggak perlu capek jauh-jauh pergi ke toko buku dan repot mencari-cari bukunya,” ujarnya.

Selain pembeli dalam negeri, toko buku online juga acap kali melayani pembeli dari luar negeri di Australia, dan beberapa negara di Eropa. Pembeli ini umumnya orang Indonesia yang menetap atau tengah belajar di negera tersebut dan kedutaan Indonesia yang melengkapi koleksi perpustakaannya.

Sementara itu pembeli dari Malaysia dan Singapura, kata Angel, justru lebih banyak warga negara setempat yang menyukai buku-buku penulis Indonesia. Judul yang biasa dipesan dari dua negara ini adalah Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy dan serial Laskar Pelangi yang ditulis Andrea Hirata.

Bukukita mengklaim jumlah pemesanan bukunya mencapai 3.000 eksemplar per bulan dan pada tahun lalu membukukan omset sekitar Rp 1 miliar. Keuntungan bersih toko buku ini berkisar puluhan juta rupiah.

Sementara Kutukutubuku melayani pembelian rata-rata 2.000 eksemplar per bulan dengan omset tak kurang dari 60 juta per bulan. Dengan jumlah penjualan tersebut toko buku yang modal awalnya hanya sekitar Rp 10 juta ini sudah mencapai break event point sekitar dua tahun silam. “Pokoknya keuangan usaha kami ini sangat sehat,” kata Aulia.

Jumlah ini jauh kalah besar dari pendapatan bersih Amazon.com pada 2008 sebesar US$ 645 juta atau sekitar Rp 7.6 triliun. Ketika Amazon memulai bisnisnya di Amerika Serikat, mereka terbantu dengan masyarakat yang sudah terbiasa membeli barang lewat jasa mail order. Jaminan keamanan belanja dengan kartu kredit ditambah perusahaan kurir yang sudah mapan membuat pelanggan tak ragu-ragu membeli buku secara online.

Para pengelola toko buku online mengakui hambatan bisnis mereka ada pada belanja secara online yang masih belum menjadi kebiasaan. Usaha yang mengandalkan cakupan internet pun terkendala dengan tingkat pemakaian internet di Indonesia yang masih rendah.

Manajer Pemasaran Nasional Kawah Media, Budi Ahyar, menilai penjualan buku lewat toko buku online terbilang rendah. Budi yang membawahi penjualan buku dari 15 penerbit termasuk Gagasmedia ini mencatat dari penjualan satu judul buku dari toko online tak sampai satu persen dari total penjualan.

Ia menilai rendahnya penjualan itu lantaran toko online kurang agresif dalam berpromosi dan menggarap pelanggan setianya. “Mereka cuma menunggu pembeli datang padahal harusnya lebih aktif menjemput bola.”

Budi pun melihat dari sekian banyak toko buku online yang aktif dan sering memesan buku ke tempatnya hanya sekitar lima toko saja. Dari angka yang cukup tinggi jumla pesanan bukunya adalah Bukabuku.com dan Kutukutubuku.com yang mencapai 1.000 eksemplar per bulan.

Karena bisnisnya belum berkembang Kawah Media pun belum bisa memberikan diskon sebesar yang ia berikan ke toko buku konvensional. “Ya tidak etis saja masak yang sudah lama dan memberikan kontribusi besar diberikan diskon sama dengan yang masih kecil ini,” ujarnya.

Budi menjelaskan, pihaknya menggolongkan rekanan penjualan buku menjadi relasi rutin yang berisi jaringan toko buku besar dan kecil. Lalu ada relasi khusus yang biasanya perusahaan swasta dan institusi pemerintah yang hanya membeli buku sekali dalam setahun namun nilai pembeliannya sangat tinggi.

Budi memasukkan toko buku online dalam jenis yang ketiga yakni relasi promosi. Menurutnya, penjualan dari relasi promosi biasanya tak besar namun dianggap penting untuk kepentingan promosi dan sarana pengenalan produk. “Banyak yang akhirnya memutuskan membeli buku di toko buku konvensional setelah melihat dan membaca resensinya di toko buku online,” kata Budi.

Karena itulah Budi menilai positif kehadiran toko buku online dan ia optimistis suatu saat bisnis penjualan buku itu akan menjadi besar seiring masyarakat yang semakin melek teknologi. Ditambah rata-rata pembeli yang dari menengah ke atas, Budi percaya toko buku online ini punya potensi penjalan yang besar jika digarap dengan serius.

Nada optimistis juga datang dari Setiawan. “Tren belanja online tinggal menunggu waktu saja,” ujarnya.

BACA JUGA

PLUS-MINUS BELANJA BUKU ONLINE

6 Responses to "GELIAT TOKO BUKU ONLINE"

Salam Kenal.
Artikelnya bagus. keren..

*** komentar selebihnya disensor habis iklan sih***

salam

gumilang

Banyak toko buku online di dunia maya,sebenarnya banyak juga yang fiktif, Para lulusan IT yang ahli bikin web pada latah bikin web toko buku online. yang canggih-canggih…padahal tau lah..

Buku online walau harganya murah tapi kan nanti ada juga ongkos kirimnya sehingga harganya jadi mahal, padahal kalo mo beli di gramedia juga gampang, ada di mana2x, kecuali kalo toko buku nya jual buku2x yang sifatnya rare item

mmm… menarik

saya lihat toko2 buku online indonesia skrg ini mulai dari bukukita, kutukutu, bukabuku, gramedia, dan lain2nya tidak ada yang benar2 dilandasi teknologi web yang mumpuni. Kalau kita kutak-katik di web2 tsb, banyak sekali respon yang janggal dan sangat jauh dari yang namanya user-friendly.
Kelihatan sekali beli template atau mungkin pake template ecommerce gratisan.
Cuma diskon aja yang digede2in tidak fokus pada pengembangan teknologi webnya. Bagaimanapun kalau kita perhatikan semua web yang tenar spt google, ebay, facebook dll bisa berkembang karena didukung teknologi web yang mumpuni dan itulah kekuatan sebenarnya.
Jadi kalau tidak ada pembenahan pada toko tersebut diatas, saya kira, sekali google atau amazon buka cabang di indonesia mereka2 ini akan ludes dengan segera.

semakin banyak toko online semakin bagus, karena akan semakin memudahkan masyarakat dalam memperoleh buku dan tentu saja meningkatkan minat baca…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: