dunia buku (beta)

PEREMPUAN PEREMPUAN KIMURA

Posted on: April 20, 2009

cover buku dari situs yayasan obor indonesia

Titik hitam yang muncul di tengah lautan menjadi awal gelapnya hidup Okichi Saito. Kapal hitam itu membuang sauh di Teluk Shimoda serta menurunkan orang berkulit pucat dan berambut merah.

Towsend Harris, pemimpin armada Amerika Serikat, memaksa Jepang membuka isolasinya pada 1856. Di Shimoda, Harris langsung terpikat saat melihat Okichi yang jelita. Gadis yang sejak remaja dikirim ayahnya menjadi geisha itu pun dipisahkan dari tunangannya. Sang gadis kemudian dikorbankan orang-orang Shimoda menjadi tojin alias gundik Harris, pria paruh baya, agar mereka luput dari penindasannya.

Saat Harris pulang kampung dan sakit-sakitan, Okichi ditinggal. Okichi, yang terbuai mimpi kebebasan, harus kecewa berat karena penduduk Shimoda malah menganggapnya antek para setan rambut merah dan mengucilkannya.

Lika-liku hidup Okichi itu dituangkan Rei Kimura dalam novel Butterfly in the Wind, yang sudah diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa sejumlah negara di Eropa dan Asia. Penulis kelahiran Tokyo 52 tahun silam ini mengangkatnya dari kisah nyata perempuan yang kini paling dihormati di Shimoda, meski selama hampir seratus tahun diabaikan oleh sejarah.

Novel yang versi terjemahannya diterbitkan Yayasan Obor, Jakarta, ini adalah satu dari karya-karya fiksi Kimura yang menampilkan perempuan sebagai tokoh sentral. Alasan Kimura memilih perempuan menjadi protagonis sebenarnya sederhana. “Saya perempuan, jadi saya lebih mudah menulis tokoh perempuan dan melukiskan perasaannya ketimbang sosok lelaki,” katanya.

Obor juga menerbitkan novel Kimura yang lain, Awa Maru. Novel ini mengisahkan tenggelamnya kapal Awa Maru, pembawa pengungsi Jepang pada Perang Dunia II, yang ditorpedo kapal selam Amerika Serikat, Queenfish. Novel ini menampilkan Masako yang berjuang keras menyelamatkan keluarga meski suaminya sudah menyerah kepada takdir.

Tokoh lainnya, Kyoko, menelusuri sejarah keluarganya yang terkait dengan kapal Awa Maru hingga ke tempat kapal itu berangkat di Singapura. Dalam budaya yang mengenal garis keturunan patrilineal, langkahnya terbilang tak biasa.

Kimura juga menulis Japanese Rose, yang mengisahkan perempuan yang berniat jadi pilot kamikaze kekaisaran Jepang. Ia menciptakan konflik antara keinginan mengabdi negara itu dan larangan menjadi pilot hanya karena ia perempuan.

Dalam novel-novelnya yang menampilkan tokoh utama perempuan, Kimura seolah berusaha mempertanyakan tradisi dan kebiasaan negeri asalnya itu. Makanya karakter tokohnya tak seperti perempuan Jepang pada umumnya yang memang tak lepas dari latar belakang Kimura, yang besar di Amerika Serikat. Meski begitu, perempuan-perempuan Kimura tetaplah pribadi sosok yang kaku dan kering tapi emosional dan bisa jatuh cinta.

Dalam sebuah diskusi yang digelar di Jakarta beberapa waktu lalu, Kimura sempat mengungkapkan keheranannya mengapa masyarakat yang akrab dengan teknologi modern bisa sangat konservatif dalam berpikir. Protes itu diselipkan, misalnya, dengan membuat sosok Masao, suami Kyoko, yang digambarkan mau ikut campur urusan rumah tangga, membantu pekerjaan rumah, dan mengurus anak. Tak seperti lelaki Jepang pada umumnya.

Selain gaya penokohan perempuan tersebut, yang khas pada novel Kimura adalah cerita yang didasarkan pada peristiwa yang benar-benar terjadi dalam sejarah. “Karena peristiwanya sungguhan, data-datanya pun harus akurat meski nanti hasil akhirnya fiksi,” ia menerangkan.

Itulah yang membuat Kimura sangat ngotot mencari fakta. Saat menulis kisah Okichi, penulis yang menetap di Singapura ini terbang ke Shimoda. Ia lantas berkeliling kota, mewawancarai orang, serta keluar-masuk museum dan perpustakaan. Bahkan, saat menulis biografi Alberto Fujimori, Kimura langsung mewawancarainya dan berangkat ke Peru, tempat pria berdarah Jepang itu pernah menjabat presiden.

Sayangnya, ideologi yang mencerahkan dan hasil riset yang tidak murah itu tak dituangkan secara optimal dalam novelnya. Gaya berceritanya khas melodrama Asia yang lurus-lurus saja serta minim kejutan.

Alur cerita memang tak monoton seperti dalam Awa Maru, yang memakai gaya kilas balik. Namun, tempo ceritanya berjalan lambat bahkan pada bab-bab klimaks. Momen puncak terkesan tanggung karena Kimura tak mau membuatnya lebih mencekam atau bermain dengan deskripsi-deskripsi mendetail, yang membuat ceritanya lebih hidup.

Kelemahan-kelemahan dalam penceritaan ini barangkali akibat Kimura memang baru menemukan bentuk penceritaan yang cocok baginya meski ia menulis sejak berumur 13 tahun. “Ternyata saya lebih bagus menuliskan cerita berdasarkan kisah nyata,” katanya. “Saya tak cocok menulis fiksi murni karena tak punya banyak waktu luang,” perempuan yang sehari-hari menjadi pengacara perusahaan keluarga ini menambahkan.

Toh, kelemahan itu tetap bisa ditutupi dengan kekhasan gaya novel yang menginspirasi interpretasi peran perempuan dalam sejarah. “Perempuan punya peran penting dalam sejarah, jadi bukan sekadar sosok pelengkap yang lemah dan bisa dilupakan.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: