dunia buku (beta)

LAMPU KUNING BUAT INDUSTRI BUKU

Posted on: April 23, 2009

Kabar buruk itu datang ke telinga penerbit buku awal Maret lalu. Bos-bos perusahaan penerbitan yang sedang khawatir dengan resesi global pun semakin ketar-ketir mendengar berita yang sama sepanjang bulan ini.

“Pengunjung toko buku mulai turun. Yang datang pun tak banyak membeli buku jadi penjualan pun ikut turun,” kata General Manager Yayasan Obor Indonesia, Kartini Nurdin, menirukan ucapan dari staf sebuah toko buku.

Berita itu pun sejalan dengan data omset penerbit Obor yang menurun dalam tiga bulan terakhir. Memang penjualan tak sampai menurun drastis namun Kartini mencatat selama bertahun-tahun penjualan bukunya selalu tinggi pada Februari dan Maret. “Bulan-bulan mahasiswa masuk kuliah biasanya penjualan bagus tapi tahun ini tak setinggi biasanya,” ujarnya.

Kartini menduga pembeli buku menahan diri membelanjakan uangnya lantaran khawatir dengan krisis global yang sudah meluluh-lantakkan Amerika, Eropa, dan mulai merambah ke Asia. Baginya itu sudah resiko karena produk yang dibuatnya memang belum menjadi kebutuhan primer di Indonesia.

Agar tak merugi Obor kini lebih selektif memilih judul yang akan diterbitkan. Sementara itu promosi juga ditingkatkan demi mendongkrak penjualan. “Kami jadi lebih hati-hati.”

Turunnya pengunjung dan penjualan tersebut ramai-ramai dibantah manajemen toko buku. Tempo mencoba menghubungi beberapa manajer toko buku dan mereka menyatakan sejauh ini situasinya masih sama saja dengan sebelum krisis merebak. “Normal-normal saja kok, tak ada perubahan,” kata Branch Manager Leksika Lenteng Agung, Agus Manuntun.

Namun Editor penerbit Gramedia Pustaka Utama, Hetih Rusli, membenarkan cerita Kartini. Hetih mengatakan, akibat lesunya toko buku tersebut target-target penjualan Gramedia tak tercapai.

Meski begitu penjualan buku penerbit ini tak anjlok lantaran ada beberapa buku yang penjualannya masih tinggi. Salah satunya adalah serial Twilight yang ditulis oleh Stephenie Meyer.

“Twilight amat menolong di masa krisis ini,” ujar Hetih. “Bisa dibilang kami diselamatkan oleh vampir ganteng,” tambahnya lagi sembari tertawa.

Penerbit yang berkantor di kawasan Palmerah ini sadar betul Twilight tak selamanya bisa diandalkan karena itu mereka tak akan memaksakan terus menggarap genre yang penjualannya mandek. Novel teenlit yang pesonanya mulai redup, misalnya, ke depannya tak akan terlalu banyak ditambah judulnya.

Hetih menjelaskan, pihaknya akan lebih fokus pada fiksi terjemahan khususnya cerita fantasi yang memang terbukti selalu memuaskan hasil penjualannya. Itupun, kata dia, hanya akan dibatasi pada penulis-penulis yang sudah dikenal publik.

Gramedia akan meneruskan trilogi Inkheart karya Cornelia Funke dan serial Christomanci yang disebut-sebut sebagai bacaan masa kecil penuslis kisah Harry Potter, J.K. Rowling. Sementara itu judul-judul baru akan diambil dari karya GP Taylor, Shadowmancer, dan The Hunger Games yang ditulis Suzanne Collins yang banyak digosipkan sebagai buku berpotensi laris seperti halnya Twilight.

Jurus selektif ini juga diterapkan penerbit Gradien Mediatama. Penerbit yang bermarkas di Yogyakarta ini sudha mulai menyeleksi lebih ketat judul yang akan diterbitkan serta langkah efisiensi dengan mengurangi jumlah judul terbitan.

Cara lain yang diambil Direktur Gradien Mediatama, Ang Tek Khun, adalah menekan harga jual. “Kalau krisis benar-benar terjadi pasti akan muncul sensitivitas harga dimana orang akan bergeser ke buku yang murah,” ujarnya.

Khun memang memilih tak cepat mengaitkan penurunan penjualan dengan resesi global. Pasalnya penurunan selama Februari terjadi karena jumlah hari yang lebih sedikit dan banyaknya hujan yang membuat orang ogah ke toko buku.

Dana di masyarakat juga dilihat Khun bisa jadi terserap ke kegiatan ujian sekolah dan kampanye pemilihan umum sehingga tak mengalir ke toko buku. “Tapi memang sangat mungkin ada kontribusi faktor krisis global yang mulai menyentuh dunia perbukuan.”

Jika penerbit Indonesia masih berharap cemas dengan dampak resesi global pada bisnis mereka, maka penerbit di Amerika Serikat dan Eropa justru sudah mulai mengecap pahitnya bencana ekonomi itu. Penerbit yang dulu jor-joran kini mulai mengencangkan ikat pinggang.

Account Manager Frankfurt Bookfair wilayah Afrika dan Asia, Hans-Michael Fenderl, menceritakan tanda-tanda dampak resesi ke penerbit buku sudah terlihat pada ajang pameran buku ini pada Oktober tahun lalu. Penerbit-penerbit besar yang biasanya bermewah dalam membuka stand kini mengurangi ukuran stand dan berhemat dalam dekorasinya. “Beberapa pebisnis buku yang biasa datang juga membatalkan kunjungannya,” kata Fenderl yang ditemui Tempo saat berkunjung ke jakarta awal bulan lalu.

London Book Fair yang dibuka Senin (20/4) lalu pun mengalami hal yang sama. Philip Jones, pengamat bisnis perbukuan dari thebookseller.com, menemukan peserta pameran ini berkurang dua persen dan khusus di bagian buku anak menurun sembilan persen. “Kami melihat ada kebijakan pengetatan ikat pinggang pada pebisnis di industri buku,” ujarnya.

Penerbit HarperCollins salah satunya yang berupaya menghemat pengeluaran dengan memberhentikan karyawannya. Perusahaan ini juga merestrukturisasi General Books Group yang salah satu dijalankan dengan menutup divisi Collins yang lebih fokus menerbitkan buku-buku nonfiksi.

Eksekutif perusahaan yang dimiliki konglomerat media Rupert Murdoch ini menunjuk penghematan konsumen sebagai penyebab berkurangnya pendapatan mereka.”Kondisi ekonomi yang tak stabil dalam beberapa bulan terakhir ini sangat mengganggu bisnis kami dan membuat konsumen enggan berbelanja buku,” kata CEO harperCollins, Brian Murray.

Menurutnya, krisis finansial telah membuat konsumen tak lagi banyak berbelanja barang-barang yang tak termasuk kebutuhan pokok. Baginya ini akan jadi tantangan yang berat bagi industri buku. “Industri buku kan tidak kebal terhadap krisis yang terus menekan sehingga mau tak mau penerbit dan toko buku harus menyesuaikan diri.”

Selain efisiensi, penerbit pun mesti cepat-cepat menemukan judul baru yang laris. Ini yang sedang diupayakan dengan susah payah oleh Bloomsbury di Inggris yang pernah meraup untung besar ketika menerbitkan kisah Harry Potter. Perusahaan ini memang tak lagi bisa mengandalkan daya magis Potter menolong keuangan perusahaan seandainya resesi kian memburuk. Apalagi keuntungan dari seri Potter telah dipakai untuk mengakuisisi beberapa penerbit kecil.

CEO Bloomsbury, Nigel Newton, yakin di setiap era akan muncul buku yang menarik pembaca dan kali ini ia mengandalkan buku tentang masak-memasak demi menyambung hidup perusahaannya. “Kami harus menyiapkan diri karena sekarang ini orang sedang berhati-hati membelanjakan uang karena krisis dan kami juga tak kebal terhadap fenomena ini dan resesi itu sendiri,” kata Newton.

2 Responses to "LAMPU KUNING BUAT INDUSTRI BUKU"

faktor kemudahan dan besarnya diskon yg di tawarkan sangat dominan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: