dunia buku (beta)

HAIDAR BAGIR: SINGA DARI JERUK PURUT

Posted on: May 18, 2009

Presiden Direktur dan Pendiri Mizan, Haidar Bagir (Dwianto Wibowo / TEMPO)

Presiden Direktur dan Pendiri Mizan, Haidar Bagir (Dwianto Wibowo / TEMPO)

Oleh: Okta Wiguna

Di dunia perbukuan, novel Laskar Pelangi sungguh fenomenal. Angka penjualannya fantastis. Ketika diangkat ke layar lebar, Laskar Pelangi juga meledak. Ia menjadi satu dari sedikit film Indonesia yang ditonton jutaan orang di bioskop.

Sukses itu tidak akan tergapai seandainya tak ada strategi bisnis yang visioner dari pendiri sekaligus Presiden Direktur Mizan, Haidar Bagir. Pria kelahiran Solo, Jawa Tengah, 52 tahun silam, inilah yang memutuskan Mizan, yang awalnya penerbit Islam, mulai menggarap buku populer. Salah satunya novel Laskar Pelangi.

Dan lima tahun lalu, Haidar pulalah yang mencetuskan langkah bisnisnya merambah ke layar lebar. Akhir pekan lalu saya mengikuti keseharian putra pasangan Gamar dan Muhammad Bagir ini. Haidar–sapaannya, yang berarti “singa”–tampil karismatik dan hangat meski agak pelit senyum.


06.35
Studio Radio Lite FM
Wisma Nusantara Lantai 25, Jakarta Pusat

Mendung masih mengepung Jakarta ketika minibus Nissan Serena hitam berhenti di depan lobi Wisma Nusantara. Pintu terbuka dan turunlah seorang pria berambut pendek. Mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam, ia masuk ke lobi sembari mengempit tas hitam berisi komputer jinjing.

“Selamat pagi, kita langsung ke atas, ya,” ujar Haidar menyapa seraya berjalan menuju lift. Kami naik ke lantai 25, tempat studio radio Lite FM.
Sudah sejak enam pekan lalu saban Jumat pagi Haidar mengisi acara Lite is Beautiful with Haidar Bagir di radio swasta tersebut. Pukul setengah enam pagi ia sudah berangkat dari rumahnya di bilangan Cinere, Depok, Jawa Barat.

Haidar rela kehilangan suasana pagi di rumahnya nan asri ditingkahi kicau burung yang sangat disukainya. Menurut dia, aktivitasnya itu bagian dari tugasnya menyebarkan ide cinta kasih kepada banyak orang.

“Masyarakat perkotaan itu susah mencari kebahagiaan, karena kesibukan mereka merusak fitrah cinta kasih,” ujarnya. “Saya ingin, lewat acara ini, orang ingat hakikat hidup itu untuk menyebarkan cinta kasih dan kebahagiaan kepada semua orang.”

Saat membawakan acara di radio itu, Haidar begitu lancar menyampaikan pemikirannya. Meski tanpa teks, bicaranya terstruktur dan tutur katanya terjaga. Begitu pula ketika menjawab pertanyaan pendengar lewat telepon, ia menjawab dengan tenang. Padahal dulu ia tipe orang yang sama sekali tak pandai bicara.

Menurut Haidar, semasa SMP ia paling malu ketika harus berbicara di depan orang banyak. Rasa percaya diri tampil di depan umum itu tumbuh seiring dengan aktifnya Haidar di pelbagai organisasi yang diikutinya. “Sebenarnya sekarang masih malu, tapi tidak terlalu kelihatan lagi,” katanya saat kami meninggalkan Wisma Nusantara.

09.30
Restoran Sate Maranggi
Halim, Jakarta Timur

Haidar mengarahkan sopirnya menuju ke Puri Ardhya Garini, Halim, tempat akad nikah seorang kerabatnya dilangsungkan. Saat melintas di depan restoran khas Cianjur, Jawa Barat, ia malah meminta sopirnya berhenti.

Haidar memesan sup dan sate kambing. Ia juga minta disuguhi teh manis yang kental dan panas. “Saya lagi flu,” tuturnya.

Haidar begitu lahap menyantap sup dan sate kambing pesanannya. Padahal orang seusianya biasanya menahan diri menyantap daging. Dikatakannya, ia tak punya pantangan dalam makan.

Pria Arab ini lantas menyebut makanan favoritnya: cabuk rambak. Makanan khas Solo itu berisi potongan ketupat yang disiram sambal wijen. Saban menyantapnya, Haidar ingat akan masa kanak-kanaknya di kota itu. “Saya memang keturunan Arab, tapi pada dasarnya saya ini orang Solo.”

Pagi itu, setelah menghadiri prosesi akad nikah, Haidar meminta sopirnya mengarahkan mobilnya ke kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Ia akan memimpin rapat divisi Mizan Dian Semesta, yang menangani direct selling buku sejenis ensiklopedia, di Hotel Grand Kemang.

11.09
Ruang Aqua
Hotel Grand Kemang

Rapat divisi Mizan Dian Semesta dihadiri para tenaga penjualan dari luar Jawa. Dalam rapat di Ruang Aqua, Hotel Grand Kemang, itu Haidar berbagi ide, gagasan, dan bercerita masa-masa ketika mengembangkan penerbit Mizan, yang kini telah berusia lebih dari setengah abad.
Haidar merintis Mizan semasa kuliah di Institut Teknologi Bandung.

Sebetulnya ia agak setengah hati kuliah di Bandung karena sudah diterima di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Namun, anak kedua dari delapan bersaudara ini memilih hijrah ke Kota Kembang karena mengikuti kakak dan famili dekatnya. “Tapi saya pilih jurusan teknik industri, yang paling tidak teknik.”

Ilmu manajemen dan pemasaran dipelajarinya semasa kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran, Bandung, yang hanya dilakoninya tiga semester. Insting bisnis yang diwariskan ayahnya, seorang pedagang batik, ditambah ilmu ekonomi dari kuliah itu mulai bekerja ketika ia aktif di Masjid Salman ITB. Saat itu ia melihat peluang bisnis bagi intelektual muslim kelas menengah, yang tengah muncul.

“Kelompok muslim kelas menengah ini nantinya akan membutuhkan bacaan,” tuturnya. Saya melihat potensi ini dan memutuskan membuat penerbitan buku-buku Islam,” penyuka karya filsuf Iben Arabi ini menambahkan.

Pada 1983, bersama beberapa kawannya, ia mendirikan penerbitan buku Mizan, yang berarti berimbang dan obyektif. Arti nama itu kemudian dijadikan prinsip penerbitan Mizan, yang tak memilah buku berdasarkan latar belakang penulis, tapi lebih pada isi tulisannya.
Akibatnya, Mizan diserang banyak pihak lantaran menerbitkan buku karangan penulis Syiah. Begitu pula ketika meluncurkan karya seorang pastor. “Ada yang menyerang karena tak mengerti, tapi sebagian besar itu motifnya persaingan bisnis,” kata doktor filsafat lulusan Universitas Indiana, Amerika Serikat, ini.

Waktu berlalu. Perlahan-lahan Mizan kian berkembang dan maju. Kini penerbitan itu telah memiliki sejumlah anak perusahaan. Meski demikian, Haidar tak terlalu banyak mencampuri urusan teknis yang ia serahkan kepada CEO di setiap anak usaha. Ia memilih mengambil peran merancang strategi jangka panjang sembari menyuntikkan ide dan motivasi kepada bawahannya.

“Sebenarnya saya ini perfeksionis dan merasa, kalau saya kerjakan sendiri, hasilnya lebih baik,” tuturnya. “Tapi saya tetap harus mendelegasikan wewenang demi terciptanya ide-ide kreatif,” ujar Haidar dalam perjalanan menuju toko buku miliknya, MP Book Point, di bilangan Jeruk Purut, Jakarta Selatan.

14.15
Toko buku MP Book Point
Jeruk Purut

Setibanya di MP Book Point, Haidar berkeliling melihat-lihat dan sesekali memberi saran perbaikan penataan kepada staf toko. Kantor Haidar menyatu dengan toko buku tersebut. Tapi ia hampir tak pernah duduk diam di kantornya. Urusan administrasi dan pengaturan jadwal pun ia “numpang” pada sekretaris CEO Perbukuan Mizan, Novel.

Pembicaraan soal pekerjaan juga lebih banyak diadakan di ruang rapat. Seperti sore itu, ketika Haidar bertemu dengan tim Mizan Productions, yang baru saja sukses dengan film Laskar Pelangi.

Meski Laskar Pelangi sebuah kebetulan, Haidar sudah punya visi mengarahkan sayap bisnis Mizan menuju layar lebar dengan membentuk Mizan Cinema. “Film itu punya pengaruh yang lebih besar karena khalayaknya jauh lebih besar daripada buku,” ujarnya.

Dan bulan depan film Garuda di Dadaku produksi Mizan akan mulai ditayangkan di bioskop. Lantas, pada Desember mendatang, akan dirilis Sang Pemimpi, sekuel dari film Laskar Pelangi. Haidar juga perencanakan Mizan membuat empat film pada 2010. “Konsepnya film yang tak sekadar menghibur, tapi juga memberi inspirasi.”

Agar strategi film bisa digarap serius, Haidar membuat divisi usaha media nonbuku. Menurut dia, bagian ini nantinya akan membawahkan juga divisi label musik, yang sementara disebut Mizan Musiqa. Dalam waktu dekat, pihaknya akan merilis soundtrack film Garuda di Dadaku yang dibawakan Ashila–siswa sekolah Lazuardi yang didirikan Haidar.
Selain itu, masih ada produksi cakram padat musik gambus Jawa karya Slamet Gundono, yang akan dirilis menjelang bulan puasa. Ditambah lagi bisnis content telepon seluler, seperti ring back tone.

Melebarnya sayap bisnis Mizan ini menjadikannya mirip konglomerasi media. “Ketika saya memulai bisnis ini, tujuannya bukan semata mencari uang,” katanya “Tempat mencari nafkah untuk saya dan karyawan iya, tapi bukan mencari tempat uang,” Top Ten The Best CEO versi majalah SWA ini menambahkan.

Makanya, ambisi Haidar bukan pada bisnis, melainkan pada urusan sosial dengan mengelola secara serius sekolah Lazuardi dan Yayasan Muslim Indonesia Bersatu. Meski sifatnya sosial, Haidar membuat yayasannya dikelola layaknya perusahaan yang punya bisnis menguntungkan sebagai sumber pendanaan serta jenjang karier dan bonus bagi karyawannya.

20.45
Puri Ardhya Garini
Halim, Jakarta Timur

Malamnya, Haidar berangkat menuju resepsi pernikahan kerabatnya yang siang sebelumnya melangsungkan akad nikah. Saat melintas di Mampang, Jakarta Selatan, Haidar bergantian dengan istrinya, Lubna Assegaf, menceritakan masa mengontrak rumah di daerah itu–tak lama setelah mereka menikah.

Proses pernikahan keduanya pun cukup unik. Haidar cuma membutuhkan waktu dua pekan untuk memutuskan menikah dengan Lubna. Proses itu terjadi tanpa berpacaran karena, selain tradisi, Haidar tak suka bertele-tele dalam urusan pribadi.

Menikah tanpa pacaran hanyalah satu dari sedikit tradisi keturunan Arab yang masih dipegangnya. Haidar mengaku tak banyak lagi menerapkan tradisi keluarga kecuali menu masakan Timur Tengah dan pergaulan yang terpisah antara lelaki dan perempuan, termasuk dengan saudara sepupu. “Tapi ini kan bukan cuma tradisi keturunan Arab, banyak juga yang menjalankannya,” tuturnya.

“Pokoknya, kalau hal-hal agama, saya ketat. Tapi, kalau lainnya, saya terbilang liberal,” ayah empat anak ini menambahkan. Haidar memang membebaskan anaknya memilih cita-cita dan sekolah, bahkan ia tak terlalu menuntut prestasi belajar yang tinggi.

Tapi itu bukan berarti Haidar membebaskan anaknya tanpa pengawasan. Saat ini ia menunda rencananya berangkat dan menetap di luar negeri karena agak khawatir meninggalkan putra sulungnya, Muhammad Irfan, yang berusia 23 tahun dan belum menikah tanpa pengawasan. “Meninggalkan anak usia segitu dan belum menikah rasanya berat,” katanya ketika kami tiba di tempat resepsi.
Malam itu, di teras Puri Ardhya Garini, Tempo meninggalkan Haidar, yang menembus masuk irama musik gambus yang menyeruak dari dalam ruangan.

1 Response to "HAIDAR BAGIR: SINGA DARI JERUK PURUT"

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Mas Haidar saya salah seorang penggemar buku-buku terbitan Mizan, saya merasa buku-bukunya berbeda dengan terbitan yang lain. Saya pun Al Hamdulillah telah membuat beberapa buku yang berbeda dengan yang lain, ada beberapa buku yang telah dihasilkan, seperti KB3Q (Kartu Belajar, Bermain dan Bercerita Al Qur’an), TAQWA (Tarjamtul Qur’an lil Walad) dan TAFAQUH (Ta’limu Fahmil Qur’an bi Maudhuihi). Saya ingin buku-buku saya diterbitkan oleh Mizan, tapi saya tidak mengerti caranya ? bisa bantu ? Terutama buku Tafaquh, sebuah metode memahami seluruh Al Qur’an dengan Tema, bab dan pasal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: