dunia buku (beta)

TAK PUTUS BISNIS DIRUNDUNG KRISIS

Posted on: May 25, 2009

Menyusuri lorong-lorong sebuah pusat belanja di Jakarta Selatan, terlihat satu demi satu kios mulai menutup bisnisnya. Sebuah toko alat lukis gulung tikar, menyusul sebuah restoran berdesain interior nuansa putih dan hijau muda yang lebih dulu tutup. Padahal mal ini terbilang tak pernah sepi pengunjung.

Para perusahaan penerbitan pun tengah resah. Beberapa bulan terakhir angka penjualan terus menurun lantaran pengunjung toko buku tak lagi memborong banyak buku.

Ya, krisis ekonomi global memang mulai merambah Indonesia. Kalaupun krisis itu belum benar-benar terjadi, paling tidak saat ini, menurut pakar bisnis, Rhenald Kasali, tengah menggejala yang disebutnya quasi crisis atau krisis semu.

Konsumen berperilaku seakan-akan sudah hidup di tengah pusaran krisis agar lebih siap seandainya krisis dan dampak buruknya benar-benar datang. Dalam bukunya ini, Rhenald memaparkan pelbagai perilaku konsumen itu. Salah satunya downshifting, yakni perilaku mengurangi jumlah konsumsi.

Fenomena tersebut, bagi Rhenald, tak seharusnya membuat dunia bisnis lesu, tapi seharusnya justru kian bersemangat. Lewat bukunya ini Rhenald memang menawarkan optimisme, seperti ditulisnya dalam buku ini: “Krisis adalah gabungan dari bencana dan kesempatan.”

Krisis membuat perubahan pada pasar, perilaku konsumen, dan daya beli. Ini berarti muncul peluang usaha baru lewat menemukan atau menciptakan pasar baru. “Dunia usaha sering ditakut-takuti bahwa krisis akan menghilangkan daya beli,” ujar Rhenald dalam pengantar buku ini. “Saya justru ingin memperlihatkan adanya pasar yang tiba-tiba muncul dari krisis.”

Rhenald tak cuma sesumbar karena ia benar-benar mengupas fenomena pasar dan konsumen yang lazimnya terjadi pada saat krisis keuangan. Lantas ia menawarkan strategi pemasaran yang bisa efektif di masa-masa tersebut. Pelbagai ilustrasi pada buku ini membuat pemaparan Rhenald tersebut mudah dimengerti.

Malah Ketua Program Magister Manajemen Universitas Indonesia ini mendorong pebisnis lebih agresif. Ia mencontohkan sebuah perusahaan obat hewan yang merekrut karyawan karena sumber daya manusia yang tadinya sulit didapat justru tersedia di bursa tenaga kerja akibat perusahaan lain memangkas jumlah pekerjanya.

Begitu juga produsen produk minuman ringan Marimas. Saat krisis ekonomi sepuluh tahun silam, perusahaan ini malah beriklan ketika pesaingnya mengetatkan biaya promosi. Tarif iklan yang turun akibat sepinya iklan tersebut justru dimanfaatkannya sehingga produk ini bisa merebut perhatian publik.

Meski ini buku ekonomi yang penuh tabel dan diagram, gaya penulisan Rhenald yang ringan dan mengalir membuatnya bisa dinikmati tanpa perlu mengerutkan kening. Berbagai kliping berita, bahkan sebuah lembaran kuis, membuat buku ini informatif sekaligus interaktif.

Kendati demikian, isi buku ini tak semata-mata soal pemasaran, tapi juga membahas sikap pemilik usaha dan profesional dalam menghadapi krisis. Rhenald berulang-ulang menyatakan gagasannya bahwa krisis bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti. Itu membuat buku ini lebih condong kepada buku motivasional dan inspirasional ketimbang teknik bisnis dan pemasaran.

Karena fokusnya lebih kepada motivasional tersebut, di buku ini tak ditemukan pembedahan yang mendalam tentang krisis dengan hitung-hitungan keuangannya. Karena itu, buku ini barangkali kelewat sederhana bagi para pebisnis kawakan dan lebih tepat menjadi vitamin bagi pebisnis dengan usaha yang baru mulai atau tengah berkembang yang mulai ketar-ketir mendengar kabar soal krisis.

Barangkali buku ini paling komprehensif dari sederetan buku yang sejak awal tahun lalu peluncurannya dikaitkan dengan krisis keuangan global. Rhenald menyuguhkan cerita akar krisis dari kredit perumahan di Amerika Serikat sampai kondisi terbaru di Tanah Air. Ditambah dengan penulisnya yang orang Indonesia, maka isu dan contoh kasusnya pun lebih dekat pada dunia bisnis di Indonesia.

Judul: Marketing in Crisis
Pengarang: Rhenald Kasali
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Maret 2009
Tebal: ix + 206 halaman

4 Responses to "TAK PUTUS BISNIS DIRUNDUNG KRISIS"

trimakasih atas infonya

Ya Tuhan, jauhkanlah negri ini dari krisis

AMIN!

Terima kasih kembali Tri. Mudah-mudahan membantu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: