dunia buku (beta)

MENUKIL SEJARAH DALAM MEMOAR BASARAH

Posted on: June 1, 2009

diambil dari blog kompasiana dengan link https://i2.wp.com/yulyanto.com/wp-content/uploads/2009/05/0-300x225.jpg

Gugurnya Komodor Yos Sudarso dalam pertempuran Laut Aru telah bertahun-tahun diajarkan dalam pelajaran sejarah sebagai sebuah peristiwa penting dalam upaya perebutan Irian Barat dari Belanda. Namun, tak pernah tercantum dalam buku pelajaran adanya saling tuding kegagalan operasi rahasia itu antara Angkatan Laut dan Angkatan Udara.

Meski telah puluhan tahun berlalu, peristiwa pertempuran bersejarah itu masih lekat dalam ingatan mantan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Saleh Basarah. Ia ingat, saat itu Kolonel Laut Soedomo, yang memimpin Angkatan Laut dalam Operasi Mandala, secara terang-terangan menuding Angkatan Udara sebagai biang keladi kekalahan di Laut Aru.

Angkatan Udara dituduh tak becus memberikan perlindungan udara. Akibatnya, operasi gagal total. Gara-gara tudingan itu, Kepala Staf Angkatan Udara pertama, Soeryadarma, dicopot dari jabatannya. Menurut Saleh, kegagalan operasi klandestin itu terjadi karena kesalahan angkatan laut sendiri. Lagi pula ia melihat operasi itu tak terjaga kerahasiaannya, sehingga mudah tersadap Belanda.

Kisah tersebut merupakan penggalan dari buku memoar Saleh Basarah, Perjalanan Hidup dan Pengabdianku. Dalam dunia literatur, Saleh Basarah adalah satu dari sederet perwira bintang empat yang menerbitkan biografinya. Memoar jenderal, marsekal, dan laksamana sudah tak terhitung lagi jumlahnya. Masing-masing menawarkan cerita dan opini berbeda tentang sejarah Tentara Nasional Indonesia.

Tapi buku Kepala Staf Angkatan Udara pada 1973-1977 ini menjadi menarik karena muncul tepat di saat Angkatan Udara dirundung serangkaian kecelakaan pesawat. Lewat memoar ini, sejarah pesawat-pesawat itu bisa ditelusuri karena Salehlah yang mengusulkan dan membeli hampir semua pesawat yang kini dioperasikan Angkatan Udara.

Dalam bukunya ini, Saleh menceritakan, saat bertugas di Departemen Pertahanan dan Keamanan pada akhir 1970-an, dialah yang mengurusi peremajaan skuadron yang pesawatnya sudah uzur. Ia sendirilah yang datang ke pabrik pesawat Rockwell Internasional di Amerika Serikat demi memantapkan pembelian OV-10 Bronco, yang kini sudah dipensiunkan.

Ia pulalah yang melobi militer Amerika agar Indonesia bisa membeli tambahan pesawat C-130 B Hercules untuk mengganti dua pesawat angkut yang tertembak jatuh oleh pasukan Angkatan Darat di Kalimantan Barat dan satunya lagi hilang dalam operasi penerjunan pasukan. Saleh juga mengusulkan pembelian Fokker F-27 Troopship setelah berkunjung ke pabriknya di Belanda.

Saleh menyaksikan sendiri kebijakan dirgantara yang dinilainya tak tepat. Pria yang aktif di Air Power Centre of Indonesia, yang bergiat dalam pengembangan kekuatan udara Indonesia, ini mencontohkan pembangunan industri pesawat terbang yang dipaksakan.

Saat ide industri pesawat terbang dicetuskan, Saleh mengusulkan kepada Presiden Soeharto, yang memanggilnya, agar dibuat saja hanggar perbaikan karena Indonesia belum punya bengkel pesawat. Tapi pada perkembangannya, ide membuat bengkel berbelok menjadi pabrik pesawat.

Menurut Saleh, proyek yang kelewat ambisius itulah yang menjadi sumber kebangkrutan IPTN saat krisis dan persaingan global menerpa. “Gagasannya (B.J. Habibie) tak realistis dan selalu menjalankannya dengan mengatakan atas persetujuan dan perintah Pak Harto,” tulis Saleh dalam bukunya.

Meski banyak bicara soal pesawat, buku ini tak melulu bicara soal militer, tapi juga cerita kehidupan pribadi Saleh: dari masa kecilnya, merintis karier, hingga pensiun. Karena Saleh bergabung ke Angkatan Udara sejak masa awal pembentukan kesatuan ini, secara tak langsung, lewat bukunya, bisa dipelajari perkembangan korps seragam biru langit ini dari masa ke masa–termasuk operasi militernya yang tak banyak terangkat ke publik.

Mungkin karena Saleh perwira Angkatan Udara, tak mengherankan jika isi bukunya banyak membela kesatuannya. Misalnya, soal keterkaitan Angkatan Udara dengan gempa politik pada 30 September 1965, ia memaparkan betapa angkatannya dipojokkan hanya karena kedekatannya dengan Presiden Soekarno. Ia juga menceritakan bagaimana Kepala Staf AURI saat itu, Marsekal Oemar Dhani, dijebak dan meski berupaya membersihkan namanya tetap akhirnya dipenjara dengan tuduhan terlibat gerakan kudeta tersebut.

Sifat alami memoar memang selalu menawarkan cerita sejarah berdasarkan versi penulisnya, sehingga pembacanya harus membandingkannya dengan sumber dan dokumentasi sejarah lain demi mengecek keakuratan data dan kesahihan informasi. Siapa pun boleh setuju atau membantah cerita Saleh. Yang tak terbantahkan adalah buku ini mengisi ruang-ruang kosong dalam sejarah yang luput dari perhatian, terlupakan, atau mungkin sengaja dilupakan.

Judul: Saleh Basarah, Perjalanan Hidup dan Pengabdianku
Penulis: JMV Soeparno dkk
Penerbit: Penerbitan Sarana Bobo, April 2009
Tebal: xxii + 682 halaman (plus suplemen vi + 266 halaman)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: