dunia buku (beta)

PEREMPUAN INDO DI KAMP PERANG JEPANG

Posted on: June 17, 2009

Asap hitam yang membubung di pesisir Jambi menandakan kedatangan pasukan Jepang di kota itu. Namun, Pastor Koevoets mendahului kedatangan pasukan itu ke rumah Vic la Fontaine dengan rencana yang akan mengubah kehidupan Rita, putri sulung keluarga tersebut.

Jauh sebelum pasukan Jepang datang, kabar pemaksaan perempuan tanpa pandang bulu menjadi wanita penghibur tentara sampai di telinga Koevoets. Sebagai sahabat keluarga la Fontaine, ia tak rela Rita menjadi korban keganasan pasukan Nippon dan mengusulkan remaja putri itu menyamar menjadi lelaki.

Dan kemudian… kres, kres, kres. Gunting Koevoets memangkas helai demi helai rambut sepinggang Rita. Seiring dengan tetesan air mata gadis ini, Rita tak ada lagi. Sejak hari itu, ia berubah menjadi Rick la Fontaine.

Begitulah awal penyamaran Rita la Fontaine de Clercq Zubli menjadi lelaki selama tiga tahun lebih masa pendudukan Jepang di Indonesia. Rita menceritakan ulang kisah hidupnya itu dalam enam bagian berdasarkan bulan-bulan ia menjadi tawanan perang.

Tak terlalu jelas alasan pembagian itu. Tapi, bila ditilik dari cerita di tiap bagian tersebut, akan kelihatan perubahan peta kekuatan tentara Jepang terhadap pasukan Sekutu dan pengaruhnya terhadap sikap mereka di kamp tawanan perang.

Setelah terbit pertama kali di Amerika Serikat pada 2001 dengan judul Disguised: A Teenage Girl’s Survival in World War II Japanese Prison Camps, buku ini menghilang begitu saja. Kisah Rita ini tak akan sampai ke Indonesia andai penulis buku anak, Alison Morris, tak gigih mencari jejak keberadaannya.

Morris tengah menyusun buku tentang perempuan dalam sejarah yang menyamar menjadi lelaki ketika ia menemukan buku Rita. Berkali-kali usaha melacak penulis buku tersebut gagal. Namun, Morris tak menyerah, hingga ia menemukan alamat Rita di Nashua, New Hampshire, Amerika Serikat.

Morris membujuk penerbit Candlewick merilis ulang buku Rita. Pada September 2007, kisah Rita selama menjadi Rick diterbitkan ulang dengan judul Disguised: A Wartime Memoir. Dan versi Indonesia diterbitkan dengan sampul dan judul yang sama.

Morris menyatakan Rita punya memori emosional yang mampu merekam semua perasaan di masa remaja serta daya ingat mendetail soal sejarah. Namun, Morris barangkali luput akan kerja keras Rita dan suaminya, Dan, mengecek ulang akurasi data sejarah.

Membaca buku ini bagai mengikuti campuran kisah Diary of Anne Frank dalam persembunyian dari kejaran tentara Nazi dan kamp konsentrasi dengan cuplikan masa kecil Sayuri, tokoh novel Memoirs of a Geisha. Rick juga harus berhadapan dengan budaya kehidupan malam dan perempuan penghibur Jepang.

Akhir cerita ini sudah ketahuan dari awal bahwa penyamaran itu sukses dan Rita selamat dari kamp konsentrasi. Namun, Rita, yang bukan penulis profesional, sukses mencuplik bagian pengalamannya yang penuh drama. Kegembiraan, kesedihan mendalam, dan ketegangan tanpa letusan senjata dijalin menjadi cerita yang hidup.

Maka, dalam buku ini akan ditemui tak hanya kisah kehidupan tawanan perang, tapi juga kegelisahan seorang gadis menjalani hidup sebagai lelaki. Terasa pula kegundahan seorang remaja dalam lingkungan yang sangat tak normal dengan beban hidup melebihi umur karena menanggung peran besar bagi keluarga di kamp konsentrasi.

Sayangnya, Rita, yang ayahnya berdarah campuran Eropa dan Indonesia, sangat mengecilkan peran kalangan Bumiputera sebatas pekerja di rumahnya dan orang-orang yang mengabdi kepada Jepang. Ini barangkali akibat politik rasialis pemerintah kolonial, yang menempatkan orang Indo seperti dirinya pada kasta yang lebih tinggi ketimbang masyarakat pribumi, yang dilihatnya tak beradab untuk standar orang Eropa.

Buku ini memang menampilkan sisi berbeda dari ajaran sejarah Indonesia, yang menggambarkan Jepang sebagai penjajah yang lebih kejam ketimbang Hindia Belanda. Rita menggambarkan sikap pengelola kamp konsentrasi Jepang yang keras tapi santun dan baik, setidaknya kepada Rita. Bahkan penderitaan tawanan perang Eropa dalam buku ini lebih banyak akibat fasilitas yang tak semewah hidup mereka dulu dan karena penyakit, bukan karena penganiayaan.

Karena cerita berpusat pada diri Rita, hanya penulisnyalah yang tahu seberapa dekat isi buku ini dengan kenyataan. Apalagi sosok Rick terkesan kelewat hebat dan hampir sempurna. Perang bisa saja membuatnya cepat dewasa.

Meski begitu, sulit dipercaya, seorang remaja yang di awal cerita begitu takut terhadap pasukan Jepang mendadak berubah menjadi tenang dan dingin saat berhadapan perwira intelijen kamp konsentrasi, yang piawai menginterogasi.

Judul: Disguised (Sang Penyamar)
Pengarang: Rita la Fontaine de Clercq Zubli
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Mei 2009
Tebal: 377 halaman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: