dunia buku (beta)

MENULIS BATIK DALAM LEMBARAN BUKU

Posted on: September 14, 2009

oleh: Okta Wiguna

Bagai laut, literatur tentang batik memiliki masa pasang dan surutnya. Dunia penerbitan buku modern sempat dibanjiri buku tentang batik pada 1920-an, yang rata-rata berisi pengenalan tentang kain asal Indonesia ini.

Lantas, pada dekade 1970-an muncul kembali buku yang membahas teknik membatik dan kreasi yang berusaha keluar dari jalur tradisional. Setelah itu, buku batik sepi lagi, dan baru kembali 20 tahun kemudian, masih dengan tema buku pendahulu namun dengan kemasan yang lebih menarik bagi pembaca awam.

Memasuki tahun 2000, buku-buku tentang batik kian banyak. Dan kali ini lebih berfokus pada desain pola dan corak batik, ditambah penggalian pada aspek sejarah dan sisi budayanya.

Sayangnya, menjelang batik ditahbiskan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO pada Oktober mendatang, dunia literatur Indonesia justru masih miskin buku yang mengkaji serta mendokumentasikan desain-desain batik.

Walau begitu, bukan berarti tak ada sama sekali buku batik. Kegairahan berbusana batik, yang muncul dalam beberapa tahun terakhir ini, mulai memicu munculnya buku batik. Memang sejauh ini masih didominasi buku mode, yang mengetengahkan trik padu-padan dan tip memilih model rancangan baju batik yang modis dan modern.

Tahun ini perancang batik Iwan Tirta juga menerbitkan ulang bukunya Batik, A Play of Light and Shades, yang diterbitkan dalam bahasa Inggris pada 1996 oleh Gaya Favorit Press. Kali ini buku itu dirilis dalam bahasa Indonesia dengan judul Batik, Sebuah Lakon, yang tampil dalam kemasan yang lebih populer ketimbang pendahulunya, yang lebih mirip ensiklopedia.

Sejatinya buku ini berisi pergulatan kehidupan Iwan dengan batik. Namun, dia membukanya dengan penjelasan panjang-lebar soal sejarah batik. Dari buku ini bisa dipelajari soal kain simbut dari Jawa Barat yang, menurut Iwan, merupakan cikal-bakal kain batik.

Iwan juga membahas corak batik pedalaman seperti Yogyakarta dan Solo, batik pesisir seperti Pekalongan, serta pengaruh masuknya pengusaha batik Indo dan Perang Dunia II terhadap desain kain batik. Amat disayangkan, dalam versi terbarunya ini tak disertakan 60 corak batik yang sebetulnya salah satu dokumentasi terlengkap yang dibukukan.

Selain buku tersebut, terbit buku yang membahas batik khas sebuah daerah, seperti Traditional Batik of Kauman Solo, yang dicetak berwarna dan lebih bersifat pengenalan minus kajian. Adapun Ungkapan Batik di Semarang, yang ditulis Saroni Asikin, tampak diolah lebih matang dan memberi gambaran lebih jelas perihal batik di kota pesisir ini.

Saroni membuka bukunya dengan penggalian asal-usul batik hingga kemunculan usaha batik di pesisir utara Jawa, termasuk Semarang, pada abad ke-19. Dia mengupas juga keberagaman etnis di kota itu yang mempengaruhi corak gambar batik serta geliat masyarakat dalam membatik hingga abad ke-21. Saroni menutup bukunya dengan menampilkan 65 motif batik Semarang disertai penjelasan sumber inspirasi dan makna motif tersebut.

Ada banyak informasi menarik soal sejarah batik dalam bab awal buku ini, termasuk tentang prasasti berisi tradisi membatik pada abad ke-10 dan asal-usul kata “batik” itu sendiri. Sumber informasi itu banyak diperoleh Saroni dari buku karya penulis asing. Padahal, sebagai penulis yang hidup di tanah kelahiran batik, mestinya ia lebih mengusahakan sumber-sumber informasi lokal dengan menggali cerita di sentra-sentra batik di Jawa.

Itulah yang dilakoni oleh peneliti tekstil dan batik, Hasanudin, saat menulis buku Batik Pesisiran; Melacak Pengaruh Etos Dagang Santri pada Ragam Hias Batik. Dalam bukunya itu, penulis kelahiran Pekalongan ini mengupas habis soal ciri khas sentra batik di Pulau Jawa dan model pengelolaan bisnis kain tersebut.

Hasanudin tak hanya menulis soal kain, tapi juga seluk-beluk peralatan membatik, dari cara pemakaian dan pemeliharaan hingga sentra produsen perlengkapan membatik tersebut. Hanya, buku yang lumayan komplet isinya ini merupakan terbitan 2001, yang tak lagi bisa ditemukan di toko buku.

Dari sekian banyak buku batik yang pernah terbit, yang terunik topiknya adalah Fisika Batik karya Tim Peneliti “Batik Fisika” Bandung Fe Institute. Penulis buku ini, Hokky Situngkir dan Rolan Dahlan, mencoba memakai pendekatan sains dalam membedah motif batik, yakni dengan fraktal, sebuah cabang ilmu matematika yang menelisik teknik pengulangan. Dari hasil penelitian tersebut, mereka mengungkap batik tak hanya memiliki nilai filosofi dan budaya, tapi juga kaya akan perhitungan matematika.

Seperti buku batik lainnya, yang satu ini menawarkan ragam corak batik. Bedanya, motif dalam buku ini dibuat dengan sistem pemrograman komputer. Teknik desain ini menjadi inovasi terbaru dalam produksi batik dari setelah awalnya batik tulis, batik cap, dan batik sablon.

Sultan Hamengku Buwono X dalam pengantar buku yang penuh bahasa teknis ini menilai hasil desain batik komputer tersebut memiliki paduan warna dan motif yang inovatif dan unik tanpa meninggalkan corak batik khas Indonesia. “Inovasi ini tak sekadar melestarikan artefak masa silam, tapi juga memiliki dinamika yang menjangkau masa depan,” katanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: